Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Nyanyian Itu

Biarlah tembang itu mengalun Aku masih saja tidak peduli Padahal Kekasih sedia terbangun Aku masih saja sibuk. Tak bertali  Jalan menuju Kekasih selalu terbuka Panjang dan melelahkan Tapi burung-burung itu tetap bisa Mencium cinta yang menghanyutkan Kini daun mulai menguning  Terkadang ia pun gugur Tapi hujan datang membasahi tanah yang kering Dan matahari mulai membaur Tapi, kenapa aku masih saja tak risau Juga tiada pernah menghirau Padahal Kekasih telah melimpahiku dengan cintanya Seakan Ia yakin bahwa aku akan kembali padanya.

Senja Pergi

Pada nyanyian aku terdiam Bersama mentari yang kian menyelam Senja berlari di setiap malam Membagi kenangan yang muram Pada nyanyian aku tersudut Hidupku yang tak habis bergelut Senja pun mulai menghilang ditelan kabut Tak sepatah pun tertutur dari mulut Pada nyanyian, tiada bergemang Gugur pula daun dan kembang Senja kini telah hilang Bahkan tiada sedikitpun untuk dikenang.

Daun yang Tergila

Daun itu mulai tumbuh Di kala ia dijumpai mentari Pancarannya yang hangat memanglah menyentuh Pada kerasnya sebuah hati Daun itu semakin tumbuh Pada setiap perjumpaan dengan senyumnya Seakan pancarnya akan menghangatkan tanpa peluh Pada hatiku yang begitu dinginnya Daun itu menjadi layu Karena surya kini di senja Layaknya ia tau sinarnya takkan lagi merayu Pada hati yang sudah mulai membuka Daun itu akhirnya gugur Karena perginya sang mentari; Dia mati tersungkur Karena hati yang kembali menyendiri Namun, daun itu bangkit di atas pijakannya Ketika fajar mulai menampakkan wajahnya Kini si pemilik daun itu pun bertanya Apa raga serta batinku seakan Qais terhadap Lailanya? Karena daun: jiwa telah fana Karena daun: jiwa telah abadi

Lapang

'Kan kugubah banyak syair Tuk mensyukuri takdir Daripada pengalaman dan jiwa yang fakir Sepanjang perjalanan sebagai musafir Barangkali aku melangkah masihlah dekat Pun dalam tempo ketukan yang lambat Laksana sampan dihampiri ombak, ia terhambat Tetap berjalan tegap dan nekat Cahaya-Mu memang selalu ada Duduk tegak dalam kalbu di dada Terasa dalam rumah kehadiran-Mu jua Memberi jawaban atas nasib melanda Tuhanku, Terima kasih haturku, Atas kelapangan daripada nikmatmu, Kini pintu jua jalan semakin nampak dalam pandangku.

Cahaya Sang Raja

Rumi benar dalam berkata Pasal cinta yang mengubah segalanya Cuka menjadi anggur yang dirasa Duri bak mawar merah merona Hamzah pun tiada keliru Pasal mabuk cintanya sedalam laut yang biru Ia mencari cinta sejatinya dengan penuh rindu Ternyata dalam rumah Ia bertemu Ibn Arabi pun mendapat cinta Daripada salamnya pada Salma Jiwa yang terpaku di atas tanah-Nya Mengenal Tuhannya tanpa cidera Abdul Hadi juga demikian Mendapat cinta dari sang Rahman Merindu Ia dengan payah dan beban Mencinta Ia tiada lawan Mulai aku dihampiri cahaya Daripada lilin yang membagi bara Mulai aku berjalan membawa sukma Menyambut pintu pulang menuju Sang Raja

Lilin yang Malu

Tidaklah aku mengerti Mengapa detik berjalan lambat sekali Hanya untuk menunggu pasti Pada pertemuan yang sangat ku nanti Tidaklah aku bertahan Pada masa yang tiada berteman Hanya untuk sebuah pertemuan Yang ku yakin memang akan penuh kesan Tidaklah aku mencinta Pada sesuatu yang tidak patut didamba Meski burung berkicau memberi tanda Bahwa aku telah dibuta Tidaklah aku ragu Akan keputusan yang telah dipaku Meski datangnya lilin ini dengan malu Sungguhpun dia memang untukmu.

Nur yang Hadir

Yakin ku pada kedekatan Mu Yakin ku pada kehadiran Mu Keyakinanku akan janji Mu Kepercayaanku akan wujud Mu Sungguh Nur itu telah hadir Dalam batin percaya pada takdir Nur membawa rindu penuh dengan anasir Mengarahkan hayat untuk terus mengalir Aku memang nafs yang miskin Mencari cahaya pada amakin Mulai bertafakur dalam yakin Mengejar cinta lagi batin Dia memang zat kekasih Membagi cinta tiada pamrih Mencipta makhluk tiada letih Mengutus insan jiwa yang bersih