Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Daun Telah Tumbuh

Gambar
 Daun itu mulai tumbuh Harum melati putih suci Surya digenggam, siang berlabuh Mekarlah mawar, indah abadi Engkaulah penyembuh jiwa rapuh Hadir tersenyum, penuh wangi Asa bangkit, lubuk penuh Terus senyap, jiwa menepi Engkau ada di balik hijab Engkau tiada di depan mimbar Cantik menawan, dzat beradab Hijau daun, merahnya mawar 

Sunyi Hati Cinta Membisu

Gambar
Harum melati hingga ke lubuk Cahaya mentari menari-nari Dingin malam kejam menusuk Rindu kalbu, sunyi hati Duhai Kasih, Engkau sendiri Kaki melangkah, tulus dan abadi Cinta bersandar, indah nan suci Meski hijab, kokoh berdiri Rintihan jiwa kian menjadi Air mata mengalir tiada henti tubuh dekat, rasa bertahan malu Kekasih wujud, cinta belum menyatu

Persimpangan Jalan

Gambar
Tiba jiwa di persimpangan Hadir angan dari segala penjuru Pada Kekasih menaruh harapan Sebab Ia tidak pernah berlalu Barat tegas memberi asa Timur datang tersipu malu Utara hadir dengan membara Selatan pun jua tidak membisu Yakinku telah tumbuh  Akan melangkah di setiap simpang jalan Gonggongan anjing tiada pengaruh Pada tujuan yang telah ku tentukan Sebab Kekasih setia mengasihi Sebab Kekasih hadir meyakini Sebab Kekasih terus membersamai Sebab Kekasih memberi cinta abadi

Sajak Bulan Ke-Sembilan

Gambar
Berdiri di sudut selatan Banyuwangi Sinar rembulan tersipu malu Rindu menusuk, gundah menari Berpaling ombak Lautan biru Barat timur Engkau berlalu Tiup angin, daun bergugur Jiwa merenung bayang semu Duduk di hati ilmu dan nur Utara selatan Batin menangis Hitam berseri, mawar melati Rahasia-rahasia kian terkikis Kalbu meratap, lubuk mencari Bersandar pada purnama ke-Sembilan Sadar jiwa, bangkit perlahan Sanghyang Agung tidak tidur Ia dekat sangat akur Pada pesisir aku bicara Tentang panggung bersandiwara Tali temali mengikat senja Akal berzikir Sang Pencipta

Senja di Lubuk

Gambar
Untuk Nurmala Duhai mutiara,  Tali perahu telah terpatri Pada balok ujung dermaga Berjalan raga, terduduk hati Duhai melati,  Aroma kian mewangi Kalbu tertumpuk, jiwa berlari Senyum kekasih cantik berseri Duhai engkau yang berdiam di rumah Senyum merona si mawar merah Angin kerinduan bertiup dari segala arah Langit gembira Lubuk bergairah Duhai Kekasih,  Dengan hadirmu hilanglah letih Duhai Pelipur lara Bersandar lubuk, tenanglah jiwa

Hadzami dan Mala

Para nelayan sedang bahu membahu menyiapkan jejaring untuk berlaut malam ini. Matahari sudah mulai tersipu malu di barat. Beberapa awak kapal, dengan ukuran yang sedikit lebih besar, juga sudah mulai terlihat sibuk dengan persiapan kebutuhan berlayar malam ini. Setidaknya ada gentong isi solar, bahan makanan, dan umpan. Di seberang garis pantai yang dibelah oleh jalan, anak-anak nampak asyik bermain sepak bola. Bahkan mereka tanpa menggunakan sepatu. Hadzami tetap berjalan menunduk. Beberapa kerikil kadang ia tendang. Hatinya sedang remuk dan ia merasa seperti peran pecundang di film barat yang baru saja gagal dari pekerjaannya, memegang jasnya dengan tangan kirinya dan menggenggam sekaleng bir di tangan kanan. Hiruk pikuk sekelilingnya, becak yang lalu lalang, semangatnya para nelayan, senyumnya para pedaganng pasar karena telah untung banyak di hari ini, sekalipun tidak menggairahkan jiwa Hadzami. Bahkan, mentari yang semakin menghilang, juga mendukung kelamnya suasana Hadzami. I...