Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Senja November

Terima kasih haturku Pada senja Bulan November Pancaran sinar pada senyum sipumu Terngiang menari di benakku Terima kasih haturku Pada senja Bulan November Rintik demi rintik yang tak menggetar Bait demi bait yang tak dipedulikan Terima kasih haturku Pada senja Bulan November Suap demi suap yang sangat manis Lirik demi lirik yang sangat merdu Terima kasih haturku Pada Senja-ku di Bulan November Kenangan yang Kau beri Akan selalu ku jaga hingga waktu yang Kau beri pada ku dan senja ku Hafidz Fadli, 3 Desember 2017

السعادة

لا أشياءا أريد إلا السعادة أعلم أنها بشر،وخارقة، وكاذبة السعادة هي سراب, لكنها إختلاف أسعد كثير عندما أنت تبسما تبسمك كلؤلؤة في وسط الطين يظهر أملا أريد أشكر على مقابلتنا هنا. حافظ فضلي، ٢٠، ٢٣ سبتمبير ٢٠١٧ Kebahagiaan hanya kebahagiaan yang ku inginkan memang Ia seperti manusia hampa lagi berdusta kebahagiaan itu fatamorgana, meski berbeda betapa bahagianya diriku bila melihatmu tersenyum seperti mutiara di tengah lautan lumpur  menunjukkan apa yang kuharapkan betapa bersyukurnya aku pada pertemuan kita, di sini

Robohnya Surau Kami

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.” Amboy nian, pembukaan sebuah cerpen melayu yang sangat menarik buat saya. Jarang sekali, pada masa pertama kali saya baca cerpen ini yaitu sekitar tahun 2000, ditemukan pembukaan yang berbeda. Pada biasanya, sebuah hikayat, atau tradisi lisan, atau juga dapat berupa cerpen yang ditemui anak seusia saya saat itu dimulai dengan kalimat “suatu hari,” atau “di sebuah kampong nan jauh sana,” dan lainnya. Maka ini menjadi alasan saya mengapa saya menyukai novel ini, lebih-lebih mendalami ilmu sastra. Maka pada paragraf pertama ini, si penulis yaitu A.A. Navis yang...

Ujung Timur Jazirah

Gambar
Mungkin untuk sebagian di antara kita masih jarang mendengar atau bahkan membahas negara kerajaan yang satu ini, ya, Kesultanan Oman. Memang sih ini masih negara berkembang. Sebagai negara teluk pun, hanya Oman yang masih berkembang. Di sampingnya ada UAE dengan Dubainya, Saudi Arabia dengan sejarah Islamnya dan wisata rohaninya, Qatar dengan Dohanya, atau ada juga Bahrain dan Kuwait. Tapi teman-teman, janganlah kalian berprasangka dulu, di sini saya akan berbagi betapa eksotisnya negara ini dari beberapa aspek.    Gerbang Sultan Qaboos Grand Mosque, Muscat, sebagai gerbang dari cerita ini.   Yap, biar enak ceritanya, saya menulisnya dengan runut aja ya. Alhamdulillah, perjalanan saya dalam menuntut ilmu berbuah manis, meski memang banyak kegagalan-kegagalan di awal. Waktu itu, saya dapat kesempatan untuk mengikuti short course di Sultan Qaboos College, Oman. Lembaga ini ada di bawah naungan Pemerintah Oman, maka biayanya juga tidak sepenuhnya yang kita bay...

3. Perangai

P erangai Hari demi hari Ia habiskan untuk wawasan masyarakat. Maksudku adalah keilmuan. Nampaknya Ia terlahir sebagai agen dari pencerah daripada hal-hal yang gelap di masyarakat. Pendekatannya dalam mencerdaskan dan mengarifkan orang-orang kampungku benar-benar hebat. Akan kulukiskan padamu kawan apa maksud dari kata hebat itu. Kyai Aziz warga asli Kampung Tanjung Daha. Ia dilahirkan pada masa orang-orang Suku Tanjung Daha masih hidup di masa akhir Kerajaan Tanjung Daha. Kata nenekku, sewaktu Ia masih hidup, kerajaan itu kini sudah tenggelam. Lokasinya tepat di pelabuhan Tanjung Daha. Meski belum ada satupun yang melihat bekas-bekas bangunan kerajaan, tetapi kami yakin kerajaan berpusat di sana. Kini kyai, begitu kami memanggilnya, berusia sekitar 65 tahun. Beliau orang pertama dari kami yang berhasil menuntut ilmu sampai ke Timur Dekat. Di Kota Suci Mekkah, lebih dari lima belas tahun Ia belajar agama Islam. Jangan tanya perihal Bahasa Arabnya, aku yakin dia sudah s...