Robohnya Surau Kami
“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku
dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira
sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang
kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di
ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan,
yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.”
Amboy nian, pembukaan sebuah cerpen melayu
yang sangat menarik buat saya. Jarang sekali, pada masa pertama kali saya baca
cerpen ini yaitu sekitar tahun 2000, ditemukan pembukaan yang berbeda. Pada biasanya,
sebuah hikayat, atau tradisi lisan, atau juga dapat berupa cerpen yang ditemui
anak seusia saya saat itu dimulai dengan kalimat “suatu hari,” atau “di sebuah kampong
nan jauh sana,” dan lainnya. Maka ini menjadi alasan saya mengapa saya menyukai
novel ini, lebih-lebih mendalami ilmu sastra.
Maka pada paragraf pertama ini, si penulis
yaitu A.A. Navis yang berlaku sebagai orang pertama pelaku utama dengan menjadi
tokoh ‘aku’, menjelaskan sedikit latar tempat di mana kisah ini berjalan. Sebuah
surau, yang dalam Bahasa Indonesianya (Musola – yang juga merupakan serapan
dari Bahasa Arab), yang sudah tua. Meski kemudian, dalam paragraf selanjutnya,
semakin dijelaskan kondisi surau tersebut yang juga sudah renta dan tidak kokoh
lagi.
Dalam hal ini, saya menduga bahwa A.A.
Navis bukan hanya bercerita surau tua tersebut, tetapi sifat tua dan reot surau
itu nampak pula pada diri tokoh ‘kakek’. Meski ini agak sulit untuk dibuktikan,
tetapi tergambarkan bahwa kondisi diri kakek menyatu dengan kondisi surau. Penggunaan
kata, ‘tua’, misalnya.
KARAKTER KAKEK SEBAGAI TOKOH UTAMA
Meski sudut pandang tokoh kakek adalah
orang ketiga, tetapi dalam kisah ini dialah tokoh utama. Sebab cerita ini
menjelaskan bagaimana tokoh ‘aku’ bercerita kehidupan si kakek. Paragraf yang
menjelaskan karakter tokoh kakek sudah muncul di urutan ketiga. Di paragraf tersebut,
Navis secara explisit menjelaskan bahwa tokoh kakek hanya benar-benar bekerja
sebagai seorang garin dan pengasah pisau dan tidak melibatkan dirinya pada pekerjaan
lainnya yang secara umum biasa dilakukan oleh warga kampong, seperti: petani
atau pedagang. Sebagaimana penggalan kalimat berikut:
“Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari
sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat
seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun
orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin
ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia
begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya,
sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa.”
Mulai dari
kalimat-kalimat tersebut juga saya berpendapat bahwa maksud A.A. Navis, bahwa
kakek sehari-harinya hanya berada di lingkungan surau tua. Secara tersirat,
seolah-olah Ia menggambarkan bahwa orang dating ke surau untuk memintanya
mengasah pisau.
KONFLIK atau
KLIMAKS
Tentu sebuah
cerita memiliki konflik. Tidak akan terbangun dengan baik bilamana konflik
tidak ada, atau tidak sempurna. Konflik bukan berarti bertengkar atau semacam
gerakan radikal, tidak selalu demikian, akan tetapi konflik dalam sebuah cerita
berupa titik puncak yang terjadi pada para tokoh, yang benar-benar menceritakan
apa yang terjadi di cerita tersebut. Ini pula akan berkaitan pada hikmah atau
intisari yang dapat diambil dari cerita.
(hehe, kiranya
ini sebuah tafsiran lugu semata, tidak saya mengambilnya dari sebuah kutipan. Gampangnya,
saya pakai gaya bahasa sendiri saja.)
Tak perlu
panjang lebar, pada intinya, konflik dimulai ketika Ajo Sidi bercerita yang
mana ceritanya menyinggung kakek. AJo bercerita tentang seorang haji yang
sedang menunggu gilirannya dihitung amalannya oleh Tuhan dan berada dalam
keadaan percaya diri maksimal bahwa Ia akan masuk surga. Namun, Tuhan justru
memberikan neraka padanya. Ini yang membuat cerita semakin menarik, bahwa
beberapa tradisi masyarakat kita, bahwa rakyat dapat menuntut kepada wakil
rakyat melalui sebuah demonstrasi. Semakin menariknya pula, mereka melakukan
itu di hadapan Tuhan. Meski ditolak.
Hingga konflik
ini berakhir, yang justru kembali lagi ke plot awal tentang tokoh ‘aku’ yang
sangat yakin bahwa bualan Ajo Sidi adalah penyebab utama kematian kakek.
AKHIR
Kisah diakhiri
dengan tokoh ‘aku’ yang mencari Ajo Sidi namun Ajo Sidi telah pergi bekerja.
Ya begitulah
kawan, sengaja saya tidak berbagi lebih mendalam untuk review cerita
karya A.A. Navis ini. Bukan, bukan saya malas, bukan pula saya kikir berbagi,
tapi saya mau mengajak kawan-kawan juga untuk baca dahulu cerita itu
selengkapnya. Udah banyak kok yang berbagi itu internet, googling aja hoho. Setelah itu, saya sangat terbuka untuk diskusi.
Terima kasih ya,
boleh banget komentar :D
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkomentar. Akan saya pelajari untuk menjadikan konten ini semakin baik ya.