Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

2. Merpati

Merpati Entah apa lagi yang cocok selain merpati untuk sebutannya. Manis sekali senyumnnya. Julaeha namanya, si puteri sulungnya kepala desa. Kecantikannya melibihi kembang desa sekali pun. Tak paham lagi bagaimana penciptaan Tuhan atasnya. Suatu hari, Julaeha terlihat sangat terburu-buru. Tak tahu mengapa, tapi berjalan lebih cepat dari pada orang berlari. Heran sekali warga pada siang itu. Mukanya pucat bak menyiratkan ada suatu yang tidak beres dan harus segera dituntaskan. Dia berjalan dengan tidak peduli siapa pun. Di desa ini, tak lazim rasanya seorang anak kepala desa bersikap demikian. Warga menganggap Julaeha sombong, meski kebaikan yang dilakukan sebelumnya banyak dilakukan. Nila setitik merusak susu sebelanga, kiranya itu yang paling pas. Dia menuju klontong di pinggir pelabuhan klotok. Mengejutkan, dia membeli kopi dan rokok. Apa iya Julaeha merokok? Tak apa lah, terserah dia, buat apa dirisaukan. Warga bertanya-tanya. Ibu-ibu langsung bergosip. Pem...

1. Sulit

Sulit Tidak mudah memang hidup di tengah perkampungan. Setidaknya ini yang aku rasakan. Bukan soal aku tidak bersyukur pada Sang Pencipta. Bukan. Aku, terkadang, hanya ingin merasakan kota di luar sana. Bukan kampung ini setiap hari. Orang-orang yang pernah pergi ke kota dengan indahnya bercerita betapa mudahnya hidup di kota. Ingin ke sini ada kendaraan umumnya. Ingin ke sana dapat menumpang sepeda motor, minimal bermerk legenda. Bingung ingin tidur, banyak mereka memilih teras masjid. Terkadang beralas kardus di sudut toko pun nyaman. Setidaknya ini yang mengimpikanku untuk merantau ke kota.  Aku tinggal di pelosok. Nama kampungku tidak terlalu sulit. Kampung Tanjung Daha namanya. Mungkin tidak mudah mencari di peta atau bahkan buku atlas yang setebal novel Alchemist karya Coelho. Bila tuan ingin ke kampungku, cukup mudah. Dari kota Banjar pilihlah bus semi ¾ yang saat ini memang sudah reot. Jika jalan sedikit tidak rata, serasa bus ini akan hancur lebur. Ban depan akan ...