Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Hidup Konyol

  Hadzami, oh, Hadzami. Kau sadar, kehidupan memang sangat konyol. Bagi kalangan religius, mungkin, hanya karena kamu kurang bersyukur. Hadzami sendiri sepertinya sudah yakin bahwa dirinya sudah beribadah rajin. Tapi, masalah yang selalu dia hadapi membuat dia merasa tidak mendapatkan keadilan dari Sang Kekasih. Hadzami, sambil menyeruput kopi susunya, yang entah menurut dia ini adalah segelas susu manis yang diberi sedikit kopi, tersenyum getir sambil meyakinkan bahwa memang dirinya sedang ditempa dan ditimpa banyak kegagalan. Sambil membaca buku bacaannya, alis Hadzami mengernyit. Jumlah penghambaan dirinya sudah cukup bahkan berlebih. Dia baru saja sadar. Ya, hakikat. Dia tidak mendapatkan hakikatnya. Itu saja.

Pinus

Teringat juga Hadzami pada suatu hari ketika segala masalah berkumpul dalam pikirannya. Saat itu, Hadzami berada di bawah tekanan. Dia berlari, dia ambil ontelnya, digowes pedalnya ke hutan pinus. Hadzami tidak sendiri di sana. Itu merupakan tempat rekreasi warga Riau untuk bercengkrama dengan keluarga. Hadzami sandarkan sepedanya pada batang pohon pinus. Ia duduk bersandar pada batang pohon lainnya. Ia melihat seorang ibu dengan dua anaknya. Mereka serasi dan harmonis. Hanya dengan itu, Hadzami merasa tenang.

Isolasi Cahaya

  Berlari Hadzami ke puncak bukit. Sedikit mengisolasi dari beberapa kemah. Dia tahu itu adalah titik tepat untuk menyaksikan terbitnya surya. Surya menyingkap tabir cakrawala. Cahayanya menghadirkan kesegaran bagi jiwa dan benak yang diselimuti berbagai masalah kehidupan. Hanya cukup menghirup udara sedalam-dalamnya, Hadzami sudah bisa tersenyum puas. Dia melihat dan merasakan kehadiran Sang Kekasih di dekatnya.

Itu hari Sabtu

Di tengah hiruk pikuknya kendaraan umum di Riau, dan betapa sibuknya kernet menghitung pendapatannya, dan betapa pusingnya sopir memikirkan makanan untuk keluarganya, Hadzami masih menyeruput kopi hitamnya pagi itu. Masih di cangkir yang kedua, kawan. Hari itu adalah hari Sabtu. Sebagai pelayan masyarakat, dia libur. Senin sampai jumat saja yang tega mengharuskan dia ke kantornya. Mengingat kata 'sabtu', Hadzami berjalan kembali pada kenangannya di puncak bukit Malabar. Bersama beberapa sejawat saat ia kuliah, Ia berkemah di sana. Canda tawa dinikmatinya sepanjang malam. Mungkin karena terlalu lelah, tak sadar Ia sudah terbaring. Adzan subuh dari perkampungan sudah terdengar. Hadzami keluar kemudian takjub Ia melihat bangkitnya surya dengan ketegasan warna merahnya.

Monokrom

Ternyata hidup Hadzami tidak selamanya monokrom. Hanya sugesti dia saja. Ada-ada sana memang hidup. Setelah diganggu dengan pikiran akan kamar itu, Hadzami perlahan juga teringat dengan kenangan manis di depan televisi tabung kami. Setiap hari setelah ayahnya bekerja, Ia duduk di samping ayahnya dan menemaninya menyaksikan berita hari itu. Sederhana saja, tetapi Hadzami merasakan cinta dan kasih sayang ayahnya yang tiada hingga hanya dengan menonton tv bersama di ruang keluarga. #holiday   #instaroom   #hoteldeals   #hospitality   #ruangkeluarga   #furniture   #like   #volgoparma   #hoteldeal   #parmahotel   #palazzodomanto   #luxuryaccomodation   #historicalpalace   #hotellerie   #o   #travelparma   #parmacentro   #diningroom   #turist   #livingroominspo   #family   #fireplace   #newhome   #realestate   #interiorstyling   #kitchen   #instahome   #dise ...

Saleh dan Hadzami

  "Memang sudah tabiatnya!" Bisik hati Hadzami pada telinganya sendiri. Dia seruput lagi kopinya. Tiba-tiba dipukul pundaknya. Terkejutlah Hadzami. "Amboi! Cem mana bujang ni sehari-hari kau bersenggama dengan kopimu itu!" Seru Saleh. Lalu Ia meminta segelas teh manis kepada Nurmala. Hadzami hanya diam. Tidak menggubris apa kata Saleh. Membuat Saleh pun mengangkat alisnya, dan menghembuskan nafasnya yang panjang. Nampaknya, pikiran akan kamar itu masih berkeliling di benaknya. #cafe   #coffee   #kopi   #coffeetime   #food   #coffeelover   #coffeeshop   #restaurant   #love   #barista   #espresso   #foodie   #coffeeaddict   #foodporn   #coffeelovers   #instagood   #bar   #instafood   #latte   #breakfast   #o   #a   #chocolate   #instacoffee   #lunch   #coffeeholic   #cafeteria   #instagram   #latteart   #bhfyp

Kopi itu Elegan!

  Tersenyum Hadzami atas mimpinya pagi tadi. Sambil menyeruput cangkir keduanya, Hadzami berpikir. "Kopi itu elegan. Warna coklatnya suci. Pekat atau tidak, dia mahal. Pahit, asam, atau sekedar pakai susu, dia amboi!" Setiap dia minum kopi, dia ingat elegan. Setiap kata elegan hadir dalam pintu benaknya, bergetar kalbunya. Teringat pula dia pada gaya kamar di mana kejadian hari itu terjadi. Indah di benak, mungkin. Tapi, sakit di kalbu. Kejadian malam itu selalu merusak pikirannya. Tapi dia juga benci, setiap mengingat kopi dia ingat kamar itu. Tapi dia suka kopi. "Halah, dunia!" Sinis Hadzami.

Hadzami Seorang Doktor

Dengan fasihnya Hadzami menjawab semua pertanyaan, sanggahan, kritik, dan saran penguji juga promotornya. Promosi doktoralnya, memang, sukses. Dia buat suasana ruang jahannam menjadi asri seperti Kedai Kopi Bijak Bestari. Tiada heran, sepakat para profesor berkepala botak memberi nilai sempurna. Bahkan promotornya mengucapkan, "karyamu setingkat dengan karya profesor dengan jam terbang penelitian yang tinggi. Saya yakin kamu akan menjadi akademisi hebat bagi negeri ini." "Terlalu klise." Dalam hati Hadzami. Meski dengan kesantunanya berbudi, Ia mengucapkan jutaan terima kasih pada professor itu. Di seremoni kelulusan, Hadzami dipilih menjadi wakil fakultas untuk bersalaman dengan rektor karena lulusan terbaik. Semua berjalan begitu saja di hari-hari Hadzami. Dan tiba-tiba, Ia terbangun. Hanya mimpi. Hadzami hanya tersenyum. Kemudian ia keluar rumah, berjalan ke persimpangan. Masuklah ia ke Kedai Kopi Bijak Bestari. Segelas kopi hitam dia seruput pagi ini, sambil ter...

Duhai Nurmala

  Untuk Nurmala:  "Perlukah ku gubah sebuah sajak agar dapat kau peluk?" Tersenyum Hadzami melihat tingkah kenari jantan. Warna kuningnya indah. Nyanyian paginya sangat merdu. Dia setia di dahan pohon kenanga. Sayang, seribu sayang -juga muncul dalam benak Hadzami-, betina tak kunjung datang semenjak pergi di bawah padang rembulan. Suaranya menjadi sumbang. Bak meja berkaki tiga, hilanglah keelokan kenari jantan. Pagi itu, sambil membuka harian langganannya yang masih tidak jelas nasibnya karena krisis ekonomi ini, Hadzami terbelalak. Hampir keluar bola matanya. Bagaimana tidak?! Hanya karena tidak ada berita mungkin, Harian Riau hanya berkisah tentang minggatnya kenari betina. Hadzami heran dan tidak habis pikir. Terlalu konyol menurutnya. Kemudian dia lipat koran itu dan meletakkannya di atas meja makan. Hadzami lalu keluar dan berjalan ke arah timur sekitar 250 meter, lalu belok kanan di persimpangan. Tidak lain dan tidak bukan, Ia hanya ingin kopi hitam di Kedai Kopi Bija...

Secangkir Kopi Hadzami

Hanya secangkir kopi yang tidak banyak mau. Hanya secangkir kopi yang tidak banyak tingkah. Dia bijak. Dia lembut. Dia mendayu-dayu. Dan dia setia. Hadzami, seperti biasa dengan ritual paginya, pergi ke kedai kopi Bijak Bestari. Kedai kopi ini berdiri di sudut persimpangan di Rumbai Bukit. Para petanilah yang sering mengunjungi kedai yang dijaga Nur itu. Seperti kopi, mereka pun tidak muluk-muluk pada pesanannya. Kopi pahit, kopi hitam, atau kopi susu. Hanya itu. Mereka setia, seperti kopi yang mereka seruput. Hadzami hari ini cukup bersantai. Ditemani kopi hitamnya, dia membaca harian Kabar Riau. Terpampang jelas di halaman pertama, "Moral yang Tak Kunjung Usai." Aneh memang judul beritanya. Penulis artikel itu ternyata mengkritik keras bagaimana bobroknya moral masyarakat. Khususnya generasi baru. Dimarahi guru, orsng tuanya kembali memarahi guru. Lucu sekali menurut Hadzami. Sambil tersenyum getir, Ia seruput kopi hitamnya. #secangkirkopi   #secangkirkopihitam   #kafe ...