Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Sudut Jendela Nelangsa

Dari sudut pandang jendela Semua kurasa fana Terkadang hampa menghampiri Sembari mengusir bahagia yang harusnya abadi Pada sajak Rumi aku terpaku Bahwa cinta kutafsirkan ialah perlu Tanpa dia, lirik dan larik hanyalah kata-kata kosong. Sendu. Sunyi. Termenung Tak ada rasa, bagai mentari yang bersembunyi dari awan yang mendung Namun bila kembali pada hati ini Selalu aku bertanya, perlukah dia hadir saat ini? Sedang ia selalu kontra dengan norma Hanya membuatku berpijak pada nestapa. Nelangsa.

Mengapa, Senja?

Pada ruang jantungku yang terus mengadu Seraya hati bersua pada jiwa Senja yang sendu Meski aku tak sedikit pun tahu Apa Senja pun memikirkan bayanganku Atau barangkali sedikit saja Sudi pula aku berharap padanya Meski aku terjebak pada nestapa Bunga Senja yang memberiku suasana nelangsa Tak ada kemudahan dalam perjalanan ini Begitu pula dalam perjuangan ini Pun dalam pertapaan malam ini Juga dalam perenungan jiwa yang abadi Mengapa, Senja? Mengapa selalu kau yang ada Mengapa kau tidak menghilang saja Mengapa aku yang selalu kalah ketika bayangmu tiba Meski ku tahu ketibaanmu ialah sia-sia.