Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Pulang

Dalam kesunyian aku terduduk Dalam kesepian aku terjaga Pada gelapnya malam diri ini mengasing Pada diamnya diri jiwa berfikir Dalam lika-liku hayat, jiwa tersesat Dalam peperangan, batin terjebak Pada madah kehidupan, akal pergi Pada syak tiada henti, hati menyadari Dalam tafakur, maklumat diberi Pada perenungan, jiwa pulang untuk mengabdi. 

Sudut Jendela Nelangsa

Dari sudut pandang jendela Semua kurasa fana Terkadang hampa menghampiri Sembari mengusir bahagia yang harusnya abadi Pada sajak Rumi aku terpaku Bahwa cinta kutafsirkan ialah perlu Tanpa dia, lirik dan larik hanyalah kata-kata kosong. Sendu. Sunyi. Termenung Tak ada rasa, bagai mentari yang bersembunyi dari awan yang mendung Namun bila kembali pada hati ini Selalu aku bertanya, perlukah dia hadir saat ini? Sedang ia selalu kontra dengan norma Hanya membuatku berpijak pada nestapa. Nelangsa.

Mengapa, Senja?

Pada ruang jantungku yang terus mengadu Seraya hati bersua pada jiwa Senja yang sendu Meski aku tak sedikit pun tahu Apa Senja pun memikirkan bayanganku Atau barangkali sedikit saja Sudi pula aku berharap padanya Meski aku terjebak pada nestapa Bunga Senja yang memberiku suasana nelangsa Tak ada kemudahan dalam perjalanan ini Begitu pula dalam perjuangan ini Pun dalam pertapaan malam ini Juga dalam perenungan jiwa yang abadi Mengapa, Senja? Mengapa selalu kau yang ada Mengapa kau tidak menghilang saja Mengapa aku yang selalu kalah ketika bayangmu tiba Meski ku tahu ketibaanmu ialah sia-sia.

7. Mutiara Hidup

Mutiara Hidup Kalau aku diminta bercerita siapa motivator paling handal dalam hidupku, ialah dia seorang, abahku, ayah tak lekang oleh zaman. Lelaki hebat, berbudi pekerti, berbudaya, tauladan bagi keluarga. Tindak tutur yang sangat halus dan ramahnya pada para tetangga. Sungguh aku belajar banyak darinya. Kami di rumah memandangnya sama seperti campuran para khalifah penegak Islam. Tindak tuturnya selalu jujur dan benar sebagaimana Abu Bakar, begitu pula ketegasan dan keberaniannya sebagaimana Umar. Jangan tanya soal kedermawanan, meski, sekali lagi aku katakan bahwa aku dari keluarga sederhana saja, dia tidak pernah lupa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan. Tidak jauh berbeda pula akhlaknya seperti seorang Ali. Aku banyak belajar dari dirinya, terkhusus minatku dalam membaca literatur koleksinya. Dia merupakan kutu buku. Terkadang bila berucap, seolah seluruh naskah syair Hamzah Fansuri keluar semua dari mulutnya. Luar biasa, kawan. Bukan hanya aku yang me...

6. Orang-orang Alimun

Orang-orang Alimun Tidak akan ada habisnya pula bila kita mengkritik habis diri kita sendiri. Apalagi kalau kita hidup dengan kayanya akan keluhan, tanpa pernah menoleh sedikit saja ke sudut nilai baiknya dari segala apa yang terjadi di diri kita. Pun tidak akan ada habisnya bila kita menghujat diri kita sendiri. Terlebih pada kekurangan harta yang kita miliki. Sangat jahat bagiku bila melihat seorang mengeluh terhadap dirinya. Meski terkadang adanya gengsi dalam diri seseorang, manusiawi menurut beberapa di antaranya, dapat meningkatkan jiwa kompetisi dirinya. Kini aku berbicara soal keadaan sosial di kampungku. Mudah sekali bila, kita berbicara ketika masa Perang Dingin dimulai. Bagaimana blok Barat dan Timur selalu berkompetisi menjadi yang terdepan dalam menjelajah luar angkasa. Ah, pusing nian orang kampungku memikirkan ini. Namun begitulah, ketika Apollo 11 yang diawaki oleh Neil Armstrong dan tim telah berhasil mendarat di bulan untuk pertama kali, blok Ti...

Hampa dan Fana

Hampa dan Fana Dalam kerinduan mengenang hampa Dalam kesunyian merangkai kata Dalam kekayaan sembunyi aku pada syukur rasa Dalam kegelapan aku menolak iba Rasa sadar pada aku yang hanya fana Rasa cemas pada sekitar yang berduka Rasa terbakar pada helaan semangat bara Rasa pilu pada diri yang tersesat dengan harta

Menelisik Tradisi Masyarakat Utara Jawa Barat: Cirebon

Gambar
Bila masyarakat muslim di Indonesia memasuki bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, maka mayoritas tidak akan lupa pada suatu hari besar. 12 Rabiul Awal, sebagaimana ditetapkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw atau biasa disebut Maulid Nabi, memiliki ciri khasnya sendiri di lapisan masyarakat bumi pertiwi. Apabila di Yogyakarta punya nama Sekaten, atau beberapa orang Betawi menyebutnya Muludan, maka di Cirebon masyarakat memberi namanya dengan Panjang Jimat. Saya ingat sekali, maulid nabi tahun 2017 jatuh pada hari Jumat. Beberapa hari sebelumnya, Saya diminta dosen saya untuk mendampingi teman saya yang sedang mencari data untuk kebutuhan penelitian skripsinya. Karena waktu yang cukup mendadak, kami tidak mendapatkan tiket kereta api dari Jakarta, maupun jasa perjalanan lainnya. Sedikit ‘nekat’, kami pergi ke Terminal Kampung Rambutan.  Demikian pula di sana, mungkin karena long weekend, kami berdua tidak mendapatkan satu pun bus. Hingga ada satu bus yang tujua...

SENJA DIRINDU

Pada langit aku bersua Pada bintang aku berbicara Pada bulan aku termenung Pada gelap aku merenung Senja yang tak lekang Senja yang tak lupa tuk datang Senja yang selalu pulang Senja yang masih melayang Dalam kehampaan aku mencari Dalam diri Senja aku mengabdi Dalam hiruk pikuk pasar aku bersemedi Dalam hati, Senja selalu kunanti Ia sedang terbang menjauh Ia pergi dengan mengayuh Ia meninggalkanku tanpa keluh Ia tersenyum saat berlabuh Aku pada raga Senja merindu Aku pada senyum Senja merindu Aku pada citra Senja merindu Aku pada Senja, memang sedang rindu

5. Jujur itu Emas (?)

Apabila diperhatikan lebih jeli, cahaya bulan tidak begitu terang saat waktunya tiba di hilir. Dia seperti layu dan tidak bersemangat. Seolah terjadi kabut di dataran bulan. Maksudku, memasuki pergantian bulan Islam, entah mengapa aku meyakini bulan begitu merenung. Namun kiranya, malam ini sangatlah mendukung Ropi. Peristiwa siang tadi, yang awalnya akan dikira berbuah manis ternyata berujung derita. Sebagaimana hukum alam, penyesalan datang di akhir. “seharusnya aku tidak melakukan itu!” ujarnya kepada Yahya. Dia menghabiskan waktu malamnya di rumah Yahya. Sambil menatap bulan yang juga ikut merenung, dia masih tidak bisa menerima apa yang terjadi. Meskipun sabab-musababnya adalah kelakuan dia sendiri dan teman-temannya. “sudahlah, paling hanya sesaat. Besok kau datang dan meminta maaf saja.” Jawab Yahya. “aku tidak siap dimarahi pak Kades.” Keluh Ropi. “Aku yakin Julaeha malam ini menceritakan semuanya. Aku juga tidak mau pulang sebab pasti pak Kades t...

4. Pasar Kenangan

Akhir pekan ini, ayah telah merencanakan wisata ke pasar malam. Pasar malam cik! Menarik bukan? Memang tinggal di kampung sangatlah sulit. Akses tidak mudah. Keinginan untuk mengunjungi kota besar hanya angan di atas angin. Atau bahkan di langit nun jauh di sana. Bisa pula tembus bumi, apalagi buat kami keluarga yang biasa saja.  Dari dulu kami hanya sering dengar nama “Taman Ria Remaja” di Jakarta. Tak pernah melihatnya melalui TV di pos ronda, apalagi lihat langsung. Begitulah, tapi kami tetap senang. Sebab tak ada pengaruhnya pula bisa melihat itu secara langsung, mungkin kebahagiaan sesaat saja dan menjadi kenangan beberapa hari setelahnya. Paman Salim namanya, seorang juragan yang sedia kala setiap bulan menyediakan pasar malam. Entah dari mana uangnya, namun dia bisa memanggil para penyumbang untuk pasar malam. Sehingga menyediakan ladang usaha bagi warga kampungku meski hanya tiga malam dalam sebulan. Tetapi kami senang dengan itu. Sedikit cerita, Paman Salim,...