Menelisik Tradisi Masyarakat Utara Jawa Barat: Cirebon

Bila masyarakat muslim di Indonesia memasuki bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, maka mayoritas tidak akan lupa pada suatu hari besar. 12 Rabiul Awal, sebagaimana ditetapkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw atau biasa disebut Maulid Nabi, memiliki ciri khasnya sendiri di lapisan masyarakat bumi pertiwi. Apabila di Yogyakarta punya nama Sekaten, atau beberapa orang Betawi menyebutnya Muludan, maka di Cirebon masyarakat memberi namanya dengan Panjang Jimat.

Saya ingat sekali, maulid nabi tahun 2017 jatuh pada hari Jumat. Beberapa hari sebelumnya, Saya diminta dosen saya untuk mendampingi teman saya yang sedang mencari data untuk kebutuhan penelitian skripsinya. Karena waktu yang cukup mendadak, kami tidak mendapatkan tiket kereta api dari Jakarta, maupun jasa perjalanan lainnya. Sedikit ‘nekat’, kami pergi ke Terminal Kampung Rambutan. 

Demikian pula di sana, mungkin karena long weekend, kami berdua tidak mendapatkan satu pun bus. Hingga ada satu bus yang tujuan akhirnya adalah Surabaya, mau menampung kami. Tentu dengan harga yang sama saja dengan harga ke Surabaya. Untuk menumpang bus berfasilitas AC dan kelas bisnis, kami mau tidak mau harus membayar Rp275.000,-. Tidak perlu berfikir panjang, karena memang sudah pukul 8 malam, kami menumpang bus tersebut dengan duduk di tempat duduk tambahan, yang cukup memaksa, sangat bahkan, yaitu di koridor.

Lalu kami tiba di Cirebon, dengan diturunkan selepas keluar gerbang tol, sekitar pukul 2 pagi. Beruntung ada tukang ojeg pangkalan yang masih terjaga dekat sana. Kami menumpang tuk menuju rumah peristirahatan, yang tidak lain adalah rumah keluarga dari teman saya sendiri. Lalu kami beristirahat hingga azan subuh berkumandang. Lalu lanjut lagi setelah solat subuh, mungkin karena memang terlalu lelah dengan perjalanan malam tadi.

Suasana Keraton di pagi hari, sebelum Upacara Panjang Jimat malamnya. Menyelinap sedikit di belakang tenda pasar, saya mencuri momen ini. Tidak hanya warga Cirebon yang mengunjungi keraton untuk menyaksikan upacara, tetapi juga warga Jawa Barat lainnya.


Penduduk lokal Cirebon sendiri telah mewanti kami bahwa kami akan cukup kesulitan berjalan menuju Keraton Kasepuhan, salah satu dari empat tempat bekas wilayahnya waliyullah Syarif Hidayatullah. Kami berfokus pada prosesi yang diselenggarakan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Ternyata memang benar, bahwa setibanya kami di wilayah sekitar 2 kilometer menuju keraton, kami sudah harus memarkir kendaraan kami di tempat parkir yang disediakan warga yang memang kebanyakan adalah halaman rumah mereka.

Hal ini karena adanya pasar di sana. Pasar ini hanya ada ketika keraton akan mengadakan kegiatan yang khususnya adalah kegiatan Panjang Jimat ini. kami perkirakan, sekitar radius 1,5—2 kilometer wilayah pasar. Pasar datang dan mengelilingi sekitaran wilayah keraton. Sehingga perjalanan kami cukup lambat, sebab pasar yang begitu padat dan masyarakat sudah banyak yang hadir. Padahal saat itu kami datang hanya untuk survey lokasi dan wawancara pimpinan Masjid Agung Sang Cipta Rasa sekitar pukul 11 pagi sebelum azan solat Jumat berkumandang.

Pasar kaget, mungkin sebutan yang akrab, dipenuhi masyarakat hari itu. Mulai dari menjajakan jajajan perut, seperti manisan dan martabak, banyak juga yang menjual pakaian-pakaian khas yang bertuliskan keraton atau kota Cirebon. Nampaknya, pendatang hari itu cukup banyak dari luar Kota Cirebon. Ada juga pedagang yang menjual berbagai kerajinan tangan, mainan anak-anak, dan juga menjual kebutuhan masyarakat kini seperti aksesoris telepon genggam dan powerbank.

Hari itu cuaca cukup mendukung kami, mungkin karena kota Cirebon yang sudah cukup dekat dengan pantai sehingga cukup terik. Azan berkumandang, kami bergegas ke masjid agar mendapat tempat tuk solat.

Selesai solat Jumat, ada pemandangan yang cukup menarik bagi kami. Beberapa dari jamaah berbaris rapi seolah mengantre, yang tertuju pada sebuah tiang masjid. Kemudian di depan tiang tersebut, mereka terlihat berdoa dan diakhiri dengan memeluk tiang tersebut.

Beberapa jemaah melakukan tradisi memeluk tiang masjid, sebagai penghormatan simbolis pada pendahulu yang menegakkan Islam.


Menurut imam masjid, Kyai Latief, yang memang salah satu narasumber penelitian ini, itu hanya sebuah penghormatan kepada pendahulu mereka yang berkontribusi dalam penyebaran Islam. Tiang hanya sebagai simbol penegakkan agama Islam. Doa yang dipanjatkan pun, adalah doa untuk para pendahulu. Pelukan yang diberikan pun diimajinasikan sebagai tanda penghormatan dan kasih sayang. Mayoritas yang melakukan demikian, menurutnya, adalah warga dari luar Cirebon.

Pemandangan menarik lainnya adalah adanya air sumur yang dianggap suci oleh masyarakat. Beberapa orang tua memandikan anak balitanya di sana, dan minta didoakan oleh kyai di masjid. Ingat sekali kami bahwa datang seorang ibu bersama anaknya yang masih bayi, yang telah dimandikan tadi, memotong wawancara kami, dan meminta kyai untuk mendoakan anak bayinya agar selalu disehatkan Allah Swt.

Beberapa dari mereka juga membawa botol air kosong, dan membuat air tersebut memenuhi botol. Mereka yang melakukan ini adalah beberapa orang yang tinggal cukup jauh dari masjid, mungkin agar tidak perlu bolak-balik. Ada juga di antara mereka yang hanya untuk cuci muka, dan ada pula yang untuk berwudhu.

Beberapa tradisi yang kami lihat secara langsung di masjid ini adalah tradisi yang sudah lama dan setiap hari pun berlangsung. Artinya, bukan hanya dalam rangka akan diadakannya Upacara Panjang Jimat nanti malam. Air memang sumber daya yang menghidupkan manusia, begitu kiranya ungkapan pak Kyai.

Tradisi lainnya di masjid, yaitu menggunakan air suci.


Kami sedikit khawatir persoalan adanya kecenderungan menyekutukan Allah Swt. Tuhan semesta alam, namun kiranya Kyai sudah membaca ekspresi kami. Kyai tersenyum dan menjelaskan bahwa, tradisi dan adat masyarakat akan sulit dihilangkan, maka yang Kyai dan para imam masjid lakukan adalah senantiasa mengingatkan jamaah bahwa air tadi, begitu pula tiang, hanya sebagai alat atau perantara. Tetap berdoa, berserah diri, dan berharap pada Allah Swt.

Menganggap kebutuhan data kami telah terpenuhi, kami kemudian pamit. Tak lupa pula berterima kasih kepada pak Kyai atas wawasan baru yang kami dapatkan.

Senja saat itu cukup bersahabat, awan menaungi langit keraton kala itu. Saya dan kawan, yang telah beristirahat, kembali mengendarai motor menuju keraton. Karena kami merasa sudah cukup membaca situasi pasar, maka kami parkir motor di tempat yang cukup ‘strategis’ untuk menuju keraton.

“kalian yang dari UI ya? Silahkan masuk.” Sapa salah satu petugas bagian humas keraton. Kami datang membawa surat pengantar penelitian, yang memang sebelumnya telah disepakati kedua belah pihak. Cukup lama saya menunggu kawan saya di dalam untuk membuat perizinan akses. Karena cukup ketat akses ke dalam keraton mengingat ada sultan hadir malam itu.

Akhirnya saya memutuskan keluar pos humas dan melihat sekitar keraton. Sudah cukup ramai di sana. Ternyata, banyak pula masyarakat dari luar Cirebon yang hadir. Beberapa dari mereka hanya ingin menyaksikan upacara ini. Beberapa dari mereka juga berswafoto dengan banyak petugas upacara di sana. Saya cukup berbeda, karena saya meminta kawan untuk mengambilkan foto untuk saya. Dan, “cekrek.” Kamera saya mengeluarkan suara khasnya.

Mencuri momen, bersama para petugas dari Kelompok I, sebelum upacara di mulai. mereka sudah sedia sekitar 40-60 menit sebelum upacara dimulai.


Mereka, yang menggunakan atasan hitam dan bawahan batik putih, merupakan kelompok pertama  dari sembilan kelompok dalam upacara. Dalam hal ini, kelompok bukan selalu diartikan kumpulan orang. Nantinya di beberapa kelompok selanjutnya, ada yang berupa benda. Sebagaimana penjelasan berikutnya.

“kami tidak semuanya dari Cirebon, mas.” Jawab salah satu di antara mereka setelah saya tanya asal mereka. Mereka juga adalah anggota ormas yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Islam dan budaya. Merujuk data yang didapat kawan saya, mereka terdiri dari empat posisi yaitu Payung keropak, Kapel tunggul Manik, Damar kurung, dan Obor. Tugas mereka menyambut kelompok II yang akan keluar dari dalam keraton.

Kelompok II merupakan kelompok perangkat upacara yang terdiri dari Manggaran yaitu wadah, Nagan dan Jantungan (tempat surat) yang melambangkan kebesaran dan Keagungan. Selanjutnya kelompok III adalah Pangeran Raja yang mewakili Sultan dengan 2 orang diiringi oleh sesepuh dan dipayungi dengan Payung Agung kasultanan Cirebon. Adapun kelompok IV adalah Kyai Penghulu, Kembang goyang boreh yang diiringi 7 buah nasi jimat dan dipayungi.

Berikutnya kelompok V yang terdiri dari sepasang Kong (guci) yang berisi minuman segar yang disebut Serbad yang menggambarkan darah sebagai tanda bahwa kelahiran telah selesai. Kemudian Kelompok VI terdiri dari 4 buah baki membawa botol-botol yang berisi Serbad dan tempat minum. Kelompok VII terdiri dari 6 wadah berisi nasi wuduk, Tumpeng Jeneng, dan nasi putih. Kemudian disusul Kelompok VIII terdiri dari 4 buah meron yang masuk dari pintu sebelah barat Bangsal Pringgandani. Terakhir, Kelompok IX terdiri dari iringan Sentana Wargi yang menggambarkan bahwa kelahiran bayi disambut gembira oleh keluarga dan kerabatnya.

Ketika rombongan sudah mulai berjalan menuju Langgar Agung. Warga yang menyaksikan langsung memadati sekitaran jalur iring-iringan, mereka merekam dan mengambil gambar.


Setelah pasukan pengawal (iring-iringan) lengkap berkumpul di depan Bangsal Purbayaksa, perwakilan Sultan memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung, sekitar 100 meter, masih di lingkungan keraton (sebagaimana pada gambar). Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor (perlambang paman Rasul, Abu Thalib, yang menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari yang kemudian menjadi Rasulullah) sebelum akhirnya dibawa ke Langgar Agung. 

Setibanya di Langgar Agung, kami tidak diperkenankan masuk ke dalam. Semua tamu khusus pun hanya bisa menunggu di bangunan utama keraton. Tak mau rugi, saya hanya dapat mengintip dari celah jendela Langgar Agung. Sebagaimana pada gambar, para petugas di dalam langgar membacakan Barzanji (karya sastra yang menceritakan kehidupan Rasulullah secara runut, mulai dari kelahirannya sampai menjadi Rasul) dan Burdah (kumpulan syair pujian kepada Rasulullah).

Petugas sedang membacakan Barzanji dan Burdah di dalam Langgar Agung.



Selesai pembacaan Barzanji dan Burdah, para petugas mulai menyantap hidangan dan kemudian arak-arakan akan dimulai, yaitu dengan mengeluarkan gunungan nasi rasul (disebut juga sega rasul). Namun sayangnya, saya tidak berkesempatan melihat tradisi tersebut.
Biasanya, warga yang hadir berbondong-bondong mengambil hidangan tersebut. yang pula dianggap sebagai berkah.

Benda utama dalam upacara ini, termasuk dalam iring-iringan, adalah piringan porselen bertuliskan syahadat. Sebagai simbol bahwa syahadat adalah dasar ketauhidan umat muslim. Sebagaimana nasihat Sultan pula dalam sambutannya saat upacara, bahwa syahadat harus dijaga sebaik mungkin.

Hingga pukul 12 malam, kami masih stay di sana. Banyak pula warga yang masih bersantai di sana. para anak remaja yang berkumpul. Kami menikmati sekoteng yang menghangatkan, sebab hawa dingin sudah mulai menyelimuti kawasan keraton. Saya lihat para pedagang di sana pun mulai merapihkan barang dagangannya tanda seremoni tahunan akan berakhir.



Hari kepulangan pun tiba. Tidak lama memang menghabiskan waktu di Cirebon. Kawan saya, karena kebutuhan akan data, dia memilih tinggal di Cirebon. Juga merencanakan untuk melengkapi data sebelum menuliskan dan menganalisisnya. Sebelum pulang, saya tidak ingin melewatkan tempat penting di sana, yaitu Empal Gentong. Tidak pergi ke tempat yang direkomendasikan warganet, saya hanya mampir ke Empal Gentong di pinggir jalan dekat perempatan. Cocok sekali dimakan di siang hari, menurut saya. Selepas itu saya ke stasiun Cirebon dan pulang.

“jagalah syahadat kita.” Pesan Sultan dalam sambutannya. Singkat, padat, jelas. Itulah yang saya simpan hingga hari ini. pesan yang sangat penting bagi kita dalam melanjutkan kehidupan sehari-hari kita, pun membuat saya tidak pernah melupakan Kota Cirebon.

Komentar