Postingan

Ayah

Gambar
Melati putih menyambutmu Kesucian menyelimuti diri Langit merenung jiwa kelabu Karena engkau telah pergi Rindu sang Kekasih telah hadir Menjemput insan sesuai takdir Cinta suci nan abadi Membawa ruh ke singgasana Ilahi di waktu kariim, kepergianmu telah kamiil, tugasmu di hari sayyid, kepulanganmu selamat jalan, wahai ayahku

Pantaskah?

Gambar
Duhai Kasih, sungguh lah malu diriku   Duhai Kasih, sungguh hina diriku Duhai Kasih, betapa banyak maksiat yang ku pupuk Pantaskah aku meminta kepada-Mu lagi? Duhai Kasih, tiada lah sekali pun Engkau menolak doaku Duhai Kasih, tiada lah sekali pun Engkau mengecewakanku Duhai Kasih, tiada lah sekali pun Engkau mengabaikanku Pantaskah aku meminta kepada-Mu lagi?

Kenikmatan yang Fatamorgana

Gambar
Heran bukan kepalang si Hadzami kala itu. Bahkan, tiga per empat jam tidak terasa ia habiskan dengan jalan tergesa.  “Ampuni aku Tuhan. Ampuni aku. Amouni aku.” Di setiap langkahnya. “Mengapa akal ku membisik seperi ini? Duhai kalbu, mengapa engkau menggundahkan hal kecil bak debu?”  Tak jarang ia senyum sinis pada dirinya selama ia berjalan. Ia merenung pada apa yang baru saja terjadi. Seminggu terakhir Hadzami memimpikan segala hal yang menjanjikan dari Pak Soleh, mandor desa yang namanya sangat amat menjadi cerminan dirinya. Kau tahu apa maksudnya, tentu. Singkat cerita, Hadzami duduk sambil menyeruput kopi hitamnya di Kedai Kopi Bijak Bestari. Barang lima menit, datanglah mandor Soleh membawa map biru. Terlalu klimis Ia sudah seperti Pak lurah.  “Tidak kerja kau selama liburan ini, Hadzami?” “Tidak, pak Soleh. Aku pun bekerja di negeri seberang sambil kuliah. Tiada bijak kiranya tubuh dan ragaku kembali dibuat sibuk.”  “Alamak, baru saja kau duduk di negeri orang...

Daun Telah Tumbuh

Gambar
 Daun itu mulai tumbuh Harum melati putih suci Surya digenggam, siang berlabuh Mekarlah mawar, indah abadi Engkaulah penyembuh jiwa rapuh Hadir tersenyum, penuh wangi Asa bangkit, lubuk penuh Terus senyap, jiwa menepi Engkau ada di balik hijab Engkau tiada di depan mimbar Cantik menawan, dzat beradab Hijau daun, merahnya mawar 

Sunyi Hati Cinta Membisu

Gambar
Harum melati hingga ke lubuk Cahaya mentari menari-nari Dingin malam kejam menusuk Rindu kalbu, sunyi hati Duhai Kasih, Engkau sendiri Kaki melangkah, tulus dan abadi Cinta bersandar, indah nan suci Meski hijab, kokoh berdiri Rintihan jiwa kian menjadi Air mata mengalir tiada henti tubuh dekat, rasa bertahan malu Kekasih wujud, cinta belum menyatu