Kenikmatan yang Fatamorgana


Heran bukan kepalang si Hadzami kala itu. Bahkan, tiga per empat jam tidak terasa ia habiskan dengan jalan tergesa. 
“Ampuni aku Tuhan. Ampuni aku. Amouni aku.” Di setiap langkahnya.
“Mengapa akal ku membisik seperi ini? Duhai kalbu, mengapa engkau menggundahkan hal kecil bak debu?” 
Tak jarang ia senyum sinis pada dirinya selama ia berjalan. Ia merenung pada apa yang baru saja terjadi.
Seminggu terakhir Hadzami memimpikan segala hal yang menjanjikan dari Pak Soleh, mandor desa yang namanya sangat amat menjadi cerminan dirinya. Kau tahu apa maksudnya, tentu.
Singkat cerita, Hadzami duduk sambil menyeruput kopi hitamnya di Kedai Kopi Bijak Bestari. Barang lima menit, datanglah mandor Soleh membawa map biru. Terlalu klimis Ia sudah seperti Pak lurah. 
“Tidak kerja kau selama liburan ini, Hadzami?”
“Tidak, pak Soleh. Aku pun bekerja di negeri seberang sambil kuliah. Tiada bijak kiranya tubuh dan ragaku kembali dibuat sibuk.” 
“Alamak, baru saja kau duduk di negeri orang, tinggi kali teorimu itu.” 
“Tidak demikian maksudku, Pak mandor. Hanya saja aku memang ingin rehat, bercengkrama dengan sanak keluarga, juga menikmati manisnya kopi hitam ini.”
Ayy. Hitam kopimu jelas pula sebagai bukti akan pedihnya hidup kita di negeri ini, dik.”
Hehe.” Kembali Hadzami menyeruput kopinya.
“Bagaimana kuliah S2-mu di Jakarta?”
“Aman sentausa, pak Cik. Alhamdulillah. Pagi ku bekerja sebagai tenaga administrasi di kantor pos bagian menyeleksi kartu pos, Mulai jam 4 aku kuliah. Meski hanya paruh waktu dan kini telah selesai, tapi aku bersyukur. Ini menjadi modal penting untuk mencari kerja paruh waktu lainnya semester depan.”
“Syukurlah kalau begitu. Begini, kebetulan kau ada di sini, aku pun memang menginginkan bantuanmu karena engkau yang generasi terdidik yang mampu belajar ke tingkat tinggi dengan gelar maha mu.” Rayuan pertama pak mandor dimulai, macam pegawai pemasaran untaian kalimatnya. “Kemarin pak kades menginginkan aku untuk memimpin renovasi bangunan posyandu. Aku percaya pengalaman dan ilmumu bisa membantuku dalam menyusun konsep hingga akhir masa pembangunan. Tenang saja, kau akan mendapatkan hakmu serta bonus 10 persen! Indah nian, modal nikahmu dengan Mala.” Entah dari mana perhitungan pak mandor. Tapi dia terlihat sangat yakin.
Mendengar itu, Hadzami menarik nafas sedalam mungkin. Ia sadar bahwa tawaran dari mandor cukup menarik. Meski demikian, ia masih memikirkan waktu liburannya yang sangat pendek. 
“Waktuku di sini hanya 2 bulan, pak. Bagaimana?” 
“Tenang saja, ia singkat. Kau bantu tuliskan proposal ini. Tunjukkan kekuatan menulismu agar pak kades senang dan percaya diri mengajukan renovasi ini ke Pak camat.” Jawab mandor Soleh dengan ilmu yakin yang sangat tinggi derajatnya. “Bayangkan! 10 persen! Amboi nian sebagai konseptor.” Entah dari mana datangnya kata itu.
“Baiklah. Akanku coba.” Respon Hadzami.
Berjabat tanganlah mereka berdua. Kedai Kopi Bijak Bestari menjadi saksi bisu akan kesepakatan terbesar di Desa Bestari ini.
Satu minggu Ia habiskan untuk menyiapkan itu semua. Akhirnya, proposal pengajuan kepada pak Camat untuk mendanai renovasi posyandu telah usai. Pergilah Hadzami ke rumah pak Mandor dengan senyum percaya dirinya.
“Pak, ini proposalnya.”
“Eh, aduh, maafkan ya Hadzami. Lupa nian aku mengabarimu. Tepat pagi tadi saya menjunpai pak kades. Tapi ia bilang bahwa proyek renovasi ini akan digarap oleh mantunya.” Ungkap mandor Soleh dengan raut kekecewaannya.
Hadzami pun ikut mengumpat. Lebih-lebih bayangan 10 persen dari dana yang dia ajukan hilang melayang. Pikiran semakin rumit karena hilang pula kesempatan mempercepat jumlah tabungannya untuk meminang Mala. 




“Sungguh konyol kau, Hadzami.” Bisik hati Hadzami kepada dirinya sendiri. “Mengapa janji manis 10% terlalu kau imani? Mengapa kau termakan rayuan mandor Soleh padahal ia juga manusia yang bisa jadi tertipu? Mengapa sangat pendek pikiranmu?” Terus Hadzami menyalahkan dirinya.
Mala pun bingung terhadap Hadzami yang berjalan mondar-mandir dari kedai kopi kemudian ke alun-alun desa dan kembali lagi. 
“Pasti sedang ada sesuatu. Biarlah sampai Ia siap bercerita.” Ucap Mala dalam hati.
Masih sambil berjalan, Hadzami tersenyum getir. “Duhai diriku. Masih saja kau berharap pada debu. Padahal hanya sang Kekasih tempat kita berharap. Duhai Yang terkasih, ampuni aku. Aku lupa akan keindahan-Mu. Aku termakan oleh keindahan yang hanya terucap dari mulut makhluk-Mu. Padahal Ia keindahan yang palsu. Ampuni aku.”





Komentar