6. Orang-orang Alimun


Orang-orang Alimun

Tidak akan ada habisnya pula bila kita mengkritik habis diri kita sendiri. Apalagi kalau kita hidup dengan kayanya akan keluhan, tanpa pernah menoleh sedikit saja ke sudut nilai baiknya dari segala apa yang terjadi di diri kita.

Pun tidak akan ada habisnya bila kita menghujat diri kita sendiri. Terlebih pada kekurangan harta yang kita miliki. Sangat jahat bagiku bila melihat seorang mengeluh terhadap dirinya.

Meski terkadang adanya gengsi dalam diri seseorang, manusiawi menurut beberapa di antaranya, dapat meningkatkan jiwa kompetisi dirinya. Kini aku berbicara soal keadaan sosial di kampungku.

Mudah sekali bila, kita berbicara ketika masa Perang Dingin dimulai. Bagaimana blok Barat dan Timur selalu berkompetisi menjadi yang terdepan dalam menjelajah luar angkasa. Ah, pusing nian orang kampungku memikirkan ini.

Namun begitulah, ketika Apollo 11 yang diawaki oleh Neil Armstrong dan tim telah berhasil mendarat di bulan untuk pertama kali, blok Timur pusing tujuh keliling. Mereka mencari ‘celah’ di mana mereka dapat mencatat nama mereka dalam sejarah sedang pendaratan di bulan sudah berhasil diraih blok Barat.

Atau bagaimana dalam perekonomian di kota, aku yakin persaingan mereka yang digadang sebagai persaingan sehat itu memang baik untuk meningkatkan kualitas dan mutu produk masing-masing. Sebab, mereka berusaha menggaet banyak pembeli karena dapat menjamin kebaikan komoditi yang mereka jual.

Namun kawan, jauh di pelosok bangsa yang indah ini, masih sadarkah kita bahwa masih ada saudara kita yang makan kulit buah untuk menutupi laparnya. Tergetar hatiku mengetahui hal itu. Adalah aktivis pembela kami yang melihatnya, yang mungkin sudah dapat kami anggap pahlawan kami. Ya aku mengagumi sosok Soe Hok Gie.

Dia memang tidak bohong. Hingga detik ini masih saja terjadi di kampungku. Peningkatan perokonomian aku rasa hanya terjadi dan dialami oleh mereka yang tinggi-tinggi. Sedang kami, untuk bersekolah saja masih harus berfikir puluhan kali.

Kiranya ini juga menjadi titik balik di hidupku. Ah, terlalu filosofis sekali bahasaku ini. Namun memang demikianlah yang terjadi.

Aku hidup dan tumbuh besar di keluarga yang sederhana menurutku. Tapi kaya raya bagi sebagian besar warga kampung. Meski aku bersikeras bahwa aku hidup di kesederhanaan. Semoga pula ini dicatat sebagai usaha dalam menjadi pribadi yang rendah hati.

Kiranya aku tidak pernah merasa bersyukur. Semenjak aku di tingkat aliyah atau mungkin setara menengah atas, tentu perlakuan Kyai Aziz semakin berbeda. Benar-benar beliau menunjukkan kami mana yang baik dan mana yang buruk serta pula kami diberi tahu akibat apa yang kita lakukan. Bermanfaatkah atau tidak.

“Kiranya itu pribadi yang ihsan.” Ucap kyai selepas subuh hari ini.

“aku harus menebar manfaat.” Responku dalam hati.

Tetapi nyatanya itu tidaklah mudah. Menjadi bermanfaat, maksudku, adalah suatu perjuangan pula. Sambil berbaring di atas ranjang aku mulai merenung, apa yang dapat kulakukan di usiaku ini kepada orang banyak.

Tak ada habisnya ternyata bila merenungkan ini. Ya, karena sekalipun tidak ada tindakan yang dilakukan. Hingga kuputuskan untuk berkelana, mungkin aku dapat mengetahui apa yang dapat kulakukan untuk orang-orang di sekitarku.

Berbekal sepeda abah, aku mulai mengayuhnya ke hilir. Tak banyak persimpangan sebab jalan di kampung kami hanya menyisi sungai. Aku terus mengayuh, tujuanku adalah rumah kawanku, Madi, yang kini menjadi guru di taman baca al Quran.

Sekiranya satu jam perjalanan, aku tiba di rumahnya. Aku bercerita panjang lebar dan menunjukkan keluhku padanya perihal kekhawatiran ku tidak dapat memberi manfaat kepada orang lain.

“terlalu idealis kamu! Haha.” Sindirnya, entah itu dalam kondisi serius atau bercanda.

Aku kembali berfikir. Apa maksud perkataannya. Ya aku memang sedikit banyak paham arti idealis. Tetapi aku tidak menemukan hubungannya sedikitpun pada diriku ini. Hingga akhirnya Madi dengan mudah mengatakan, “kamu tidak perlu pusing untuk hal ini, sangat mudah di kampung kita, ayo ikut aku ke daerah sekitar rumahku.”

Kami mulai berjalan. Dekat rumahnya, terdapat sebuah makam keramat. Alamak, terbayang hal yang tidak baik dipikirku. Jangan-jangan Madi mengajak untuk bersugih. Ah, tidak mungkin! Dia adalah guru ngaji di desa ini.

Lalu kami berbelok, memasuki gang kecil menuju makam keramat. Terdapat gapura, berbahasa Arab yang sekiranya berarti, “Makam Kyai Hasan bin Tuhalus, Keberkahan dan kemuliaan Allah padanya, Insyaa Allah.” Kami berjalan ke dalam sekitar lima menit.

“apa yang akan kita lakukan, Mad? Berziarah?” tanyaku.

“iya, ikuti saja aku.” Jawabnya.

Sebenarnya tempat ini adalah pemakaman umum untuk warga. Namun memang ada makam almarhum Kyai Hasan di sini. Oleh sebab jasanya dalam penyebaran agama Islam di kampung kami, dan konon di kampung sebelah, setelah beliau meninggal makamnya semakin ramai dikunjungi para murid dan keturunan-keturunannya untuk berziarah. Hingga makamnya pun dilindungi dengan bangunan seperti rumah dan tepat di atas kuburannya dipasangi kelambu berlapis gorden kuning dan kaligrafi hijau, serta bunga melati yang selalu diganti setiap hari jumat.

Kami mulai berdzikir dan tahlil serta mendoakan beliau. Sambil berziarah, aku melihat di luar bangunan sudah mulai banyak anak-anak dan orang tua berkumpul dan duduk di pelataran bangunan makam.

“mungkin mereka menunggu giliran untuk berziarah.” Ucapku ke dalam hati.

Hingga kami selesai, mereka tidak masuk ke ruangan. Justru mereka tetap berkumpul dan duduk. Mereka juga adalah warga desa ini. Namun jika ku telaah dari luarannya, mereka adalah orang yang berkekurangan dalam segi ekonomi.

Baju mereka sangatlah lusuh. Ada pula yang compang-camping. Siapa sebenarnya mereka ini? mengapa mereka hanya berduduk dan berkumpul saja? Mengapa mereka tidak masuk ke dalam?
Pertanyaan yang terbelit di kepalaku pun segera terjawab pada apa yang aku lihat selanjutnya. Mereka menjulurkan tangan, bukan untuk mengajak bersalaman, tetapi untuk meminta. Tidak mungkin! Aku heran terhadap apa yang seumur hidupku ini baru saja kulihat. Tidak pernah aku melihat warga di desaku seperti ini, meminta sumbangan.

Aku yang tidak sedikitpun menyiapkan uang, bahkan memang tidak punya uang sama sekali, hanya dapat mengucapkan permohonan maaf dan terus berjalan. Entahlah, seperti tidak percaya atau memang benar-benar membutuhkan uang, mereka tetap mengejarku. Sampai Madi sendiri yang turun tangan.

Aku dan Madi pulang ke rumahnya, dan kami menikmati kopi di belakang rumah. Sambil menikmati lalu lalang perahu dan klotok, terkadang kapal membawa kayu, aku selalu terbayang terhadap apa yang terjadi baru saja.

Madi juga diam, kurasa dia menunggu aku untuk membuka obrolan.

“Siapa mereka, Mad? Tidakkah mereka bekerja?” penasaranku pecah.

“hmm, mereka itu keturunan pedalaman Alimun. Entahlah, dahulu yang kutahu mereka sempat bekerja sebagai pengumpul kayu bakar.” Jawab Madi.

Yang kutahu mengenai Alimun adalah sebuah kampung kecil di pedalaman hutan daerah hulu, bukan hilir. Meski rumahku dan Madi termasuk bagian hilir, tetapi entah kenapa mereka migrasi ke sini.

“semenjak kompor minyak semakin mudah terjangkau, dan bahkan kompor gas juga demikian bagi orang berada, kayu bakar tidak terpakai sama sekali. Tak ada yang membeli, mungkin hanya mereka saja di hutan yang menggunakan. Sekiranya sudah satu tahun mereka ke sini. Tidak karuan pula yang di kerjakan. Sebab mereka tidak cakap pula dalam bekerja bangunan, begitu pula bercocok tanam, serta bertani. Pak Kades juga bingung bagaimana seharusnya. Tidak mungkin pula diusir sebab mereka tidak dianggap ancaman atau bahkan tidak pernah merisihkan warga.” Jelas Madi. “bila kamu sedikit berjalan menelusuri sawah di belakang makam kyai Hasan, maka kamu akan menemukan beberapa pohon beringin besar. Di sana banyak beberapa terpal dan kain yang dibuat seperti atap. Mereka tinggal di sana. Ya, bila hujan ikut basah semuanya. Nyamuk mungkin sudah menjadi sahabat.”

Aku masih berusaha kompromi dengan keadaan demikian. “kegiatan mereka sehari-hari?”

“hanya datang ke makam, berusaha membersihkan makam dengan mencabuti rumput, memotong ilalang, dan berharap bayaran dari peziarah yang datang. Itu saja.” Jawab Madi seraya menambahkan, “setiap Jumat sebagian dari kotak amal masjid dibelikan nasi bungkus untuk mereka. Kami utamakan para ibu dan anak yang mendapat dahulu.”

“Berapa orangnya di sana?”

“sekiranya lima keluarga, aku sedikit lupa. Kalau tidak salah ada 21 orang. Termasuk balita di sana.”

“Adakah yang mengikutmu belajar mengaji di masjid?”

“tidak. Hanya pernah sekali seorang anak dari mereka datang lalu tidak pernah lagi. Kurasa orang tuanya tidak setuju karena khawatir akan ada biaya, meskipun bersifat sukarela.”

“apa yang dikerjakan anak-anak di sana?”

“ikut bantu orang tuanya untuk mencabut rumput di makam, dan ikut mengemis.” Jawab Madi.

Entahlah mengapa Madi mengajakku ke makam, apa karena menurutnya aku dapat menghadirkan solusi. Entahlah. Aku yang masih usia penghujung belasan tahun ini pun masih tidak tahu apa yang dapat kuberikan. Uang saja tidak punya.

Setelah solat Ashar, aku pulang. Hari ini cukup membuatku berfikir keras. Sembari mengayuh sepeda, terkadang aku terlintas pikir, bahwa kehidupanku yang serba cukup ini tidak pernah ku syukuri. Hanya keluhan yang ada setiap harinya. Sebagaimana aku mengenalkan kampungku di awal bahwa semuanya sulit. Setidaknya ini terus terbayang dalam benakku.

Demikian pula di malam hari. Hingga kutuangkan dengan penaku di atas kertas putih,

Hampa dan Fana

Dalam kerinduan mengenang hampa

Dalam kesunyian merangkai kata
Dalam kekayaan sembunyi aku pada syukur rasa
Dalam kegelapan aku menolak iba


Rasa sadar pada aku yang hanya fana

Rasa cemas pada sekitar yang berduka
Rasa terbakar pada helaan semangat bara
Rasa pilu pada diri yang tersesat dengan harta



Kusimpan kertas tersebut dalam laci, kututup rapat. Dan aku berbaring di kasur, dan mulai memejamkan mata.

Keesokan harinya usai pelajaran, aku bercerita pada kyai Aziz pada apa yang aku alami kemarin. Kyai Aziz yang mendengar apa yang kuceritakan, hanya tersenyum, dan berhubung azan Zuhur dikumandangkan, Kyai hanya menjawab, “kita solat dahulu, kemudian bersyukurlah kamu, lalu kita bertemu usai solat.”

Ya, aku solat berjamaah, agak tidak khusyuk karena masih terbayang tentang kehidupan orang Alimun di dekat makam kyai Hasan.

Lalu aku kembali menemui kyai Aziz. Beliau pun hanya menepuk pundakku dan mengucapkan, “anak muda, kamu perhatikan kehidupan mereka selama satu minggu kedepan. Hari ini kamu lihat dari makam, begitu pula esok, lalu berkenalanlah di sana. Adapun mulai hari ketiga kamu berkunjung ke tempat mereka tidur, ya, di bawah pohon beringin yang kamu ceritakan.”

Selepas makan siang, aku bercerita pada abah tentang apa yang akan kulakukan. Reaksi abah pun sangatlah sederhana.

Komentar