7. Mutiara Hidup


Mutiara Hidup

Kalau aku diminta bercerita siapa motivator paling handal dalam hidupku, ialah dia seorang, abahku, ayah tak lekang oleh zaman. Lelaki hebat, berbudi pekerti, berbudaya, tauladan bagi keluarga. Tindak tutur yang sangat halus dan ramahnya pada para tetangga. Sungguh aku belajar banyak darinya.

Kami di rumah memandangnya sama seperti campuran para khalifah penegak Islam. Tindak tuturnya selalu jujur dan benar sebagaimana Abu Bakar, begitu pula ketegasan dan keberaniannya sebagaimana Umar. Jangan tanya soal kedermawanan, meski, sekali lagi aku katakan bahwa aku dari keluarga sederhana saja, dia tidak pernah lupa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan. Tidak jauh berbeda pula akhlaknya seperti seorang Ali.

Aku banyak belajar dari dirinya, terkhusus minatku dalam membaca literatur koleksinya. Dia merupakan kutu buku. Terkadang bila berucap, seolah seluruh naskah syair Hamzah Fansuri keluar semua dari mulutnya. Luar biasa, kawan.

Bukan hanya aku yang merasakan demikian. Temanku sendiri, Madi, yang beberapa kali datang ke rumah serta berkunjung ke pondok, selalu mengulang-ngulang kekagumannya pada tindak tutur abah.
“abahmu tidak kurang tidak lebih penyair melayu klasik! Aku suka sangat bilamana ia berucap, dan menyontohnya dalam bertindak.” Puji Madi.

Berbicara soal koleksinya, selalu kuingat adanya beberapa kitab tafsir karya Buya Hamka, kisah-kisah oleh A. Hasjmy, beberapa buku sejarah peradaban manusia dan keagamaan, buku tentang orang-orang sufi, dan buku tentang sejarah nusantara. Seolah menjadi perpustakaan saja sudut ruangannya.

Apabila selepas solat subuh, takkan mudah kita temui Ia kecuali di ruangannya sendiri. Membaca Quran dan kitab kumpulan hadist sohih Bukhari dan Muslim, lalu membaca sejenak berita hari ini. bila malam selepas makan malam bersama, Ia kembali duduk dengan tenang dan membaca beberapa halaman koleksinya.

Ia sebenarnya sangat jarang ke kota untuk membeli buku. Aku pun pernah diajak sekali, itupun karena memang kami sedang berlibur ke kota. Ia lebih sering membeli buku melalui rekanannya yang memang tinggal di kota, yang kemudian dikirim melalui jasa pengiriman.

Semalam, karena aku sulit untuk tidur, aku memutuskan untuk berbicara hal ini padanya. Mengenai orang-orang Alimun, bagaimana aku dapat membantu mereka. Aku yakin bahwa abah memiliki segudang ide dan kata mutiara yang menyejukkan hati.

Selepas bertemu kyai Aziz di masjid pada waktu zuhur tadi, aku segera menemui abah. Kulihat Ia juga baru menyelesaikan makan siangnya. Lalu kuhampirinya dan mengucapkan salam.
 “assalamualaikum.”

“waalaikumussalam. tidak sedap bila kita tidak berbincang sembari menikmati teh.” Jawab abah, yang secara tersirat nyatanya memang memintaku untuk membuatkan teh.

“tidak banyak yang ingin kubincangkan, bah. Hanya saja, aku terusik dengan keinginanku sendiri untuk menjadi pribadi yang ihsan.”

“maksudmu?”

“aku ingin menebar manfaat. Untuk apa ilmuku ini bilamana hanya disimpan dalam otakku saja.”

“ya, manusia hanya seperti debu di mata Allah. Tetapi demikian, Ia dapat pula memberi manfaat. Coba kamu ceritakan apa yang kamu pikirkan!”

“sebagaimana pesan kyai Aziz, aku ingin sekali mencari di mana aku berpijak, di mana aku dapat memberi manfaat kepada orang. Kemarin, aku berkunjung ke rumah Madi lalu kami berziarah ke makam kyai Hasan. Banyak orang di sana, tetapi bukan untuk berziarah. Mereka datang, karena menungguku tuk memberi mereka sedekah. Kondisinya sangat melarat, mereka hanya pendatang yang ternyata kehabisan sumber daya untuk melanjutkan hidup. Mereka itu orang-orang Alimun. Mereka tinggal di bawah pohon beringin belakang makam, dan sehari-hari hanya dapat mengemis atau mencabuti rumput makam.”

“aku sebenarnya sudah dengar ini beberapa bulan lalu, ketika bertemu pak Kades. Tidak banyak yang dapat dilakukan pak kades desa sebelah, kecuali memberi tanah pribadinya untuk ditinggali, dan makan siang di setiap jumat. Itu saja.”

“Iya, tetapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

“tunggu sebentar, nak.” Jawab singkat abah yang kemudian berdiri dan berjalan menuju lemari koleksi bukunya. Tidak lama berselang, Ia kembali dengan sebuah buku tipis, dan memberikannya padaku.

“Melalui Jalan Raya Dunia? oleh A. Hasjmy, maksud abah apa?”

“novel itu tipis, menceritakan perjalanan hidup seorang anak melayu yang kelak menjadi pribadi yang bermanfaat. Abah menandakan beberapa halaman, seperti beberapa kata-kata manis. Coba dibuka saja halaman yang dilipat.

“kiranya ada bagian penting, aku sangat suka kalimatnya. Ah iya! Ketika Engku Shaleh memiliki kata-kata mutiara pula di dindingnya, yang bertuliskan bahwa manusia sejati ialah dia yang dapat berdiri di atas kaki sendiri, tiada laut yang tiada bergelombang. Elok kan, nak? Dari sana kita dapat belajar banyak, bahwa kehidupan kita tidak akan pernah terlepas dari tekanan dari segala arah. Air laut yang seharusnya tenangpun, justeru terus dan akan terus bergelombang. Begitulah dengan hidup, tidak akan pernah hidup kita tenang dan lurus saja, sebab selalu ada tekanan dari segala arah. Itulah namanya ujian. Manusia yang berhasil dari gelombang laut itulah Ia manusia yang salim. Ia selamat dari dari tekanan hidupnya, Ia selalu dapat menguasai tekanan hidup yang selalu datang menghampirinya. Ia selalu memimpin penyelesaian masalah kehidupannya dengan dirinya sendiri. Ia memang dibantu orang lain, tetapi andil terbesar tetap dirinya. Begitulah maksudnya.”

Aku hanya diam dan menyimak terus pesan yang abah sampaikan.

“ah ada lagi! Yaitu: intan yang sekecil-kecilnya lebih berharga daripada batu sebesar gunung. Bukan main! Tahukah kamu apa maksudnya?”

Sebenarnya aku sedikit tahu maksud kalimat ini, meski demikian aku ingin sekali dijelaskan oleh abah. Maka aku menggelengkan kepala.

“setiap tindakan yang kita lakukan ke orang, tentu punya nilai. Bahkan, nilai itu pun datang pula dari orang yang menerima tindakan kita. Intan, dia begitu indah, dengan harga yang tinggi dan dengan keadaan bentuk yang kecil, tetapi dia sangatlah dicintai dan dicari-cari orang. Keindahannya pun memberi manfaat bagi banyak orang, dan di antaranya pun mendapat kebahagiaan dari intan. Bagaimana dengan batu? Ya, batu juga dalam beberapa hal dicari orang. Tetapi apakah Ia senilai harganya dengan intan? Belum tentu jawabannya. Mungkin secuil intan saja bisa dihargai dengan batu lebih dari satu gunung. Sangat mahal! Artinya, segala kegiatan yang kita lakukan, selama itu memberi manfaat dan kebahagiaan serta memenuhi kebutuhan orang lain, maka ia akan bernilai. Selama kegiatan yang kita berikan itu pun skala kecil, namun dampak pada orang akan sangat berharga. Namun apabila kegiatan yang kita lakukan itu nirmanfaat, tidak dibutuhkan orang, maka sebesar apapun yang kita lakukan hanya memberikan kita kelelahan jiwa raga saja, nak.”

Begitulah dua kata mutiara yang tiba-tiba abah tafsirkan. Aku mengangguk dan terkagum. Kata-kata yang indah, penyampaian lugas, dan tindak tutur yang santun. Ia memberi contoh bagaimana pribadi yang ihsan dalam bertindak.

Tidak elok bila seorang anak tidak belajar hal baik dari ayahnya. Maka aku catat betul-betul apa kebaikan yang selalu keluar dari mulut dan lakunya.

Setelah Ia mendengarkanku ihwal pesan kyai Aziz, abah sangat setuju. Bahwa untuk bertindak tidaklah perlu berkecamuk pikiran saja namun tidak ada pergerakan sedikitpun. Maka pemantauan ke orang-orang Alimun itu memang sebenarnya adalah solusi tepat. Solusi untuk menemukan solusi baru.

Komentar