5. Jujur itu Emas (?)




Apabila diperhatikan lebih jeli, cahaya bulan tidak begitu terang saat waktunya tiba di hilir. Dia seperti layu dan tidak bersemangat. Seolah terjadi kabut di dataran bulan. Maksudku, memasuki pergantian bulan Islam, entah mengapa aku meyakini bulan begitu merenung.

Namun kiranya, malam ini sangatlah mendukung Ropi. Peristiwa siang tadi, yang awalnya akan dikira berbuah manis ternyata berujung derita. Sebagaimana hukum alam, penyesalan datang di akhir.

“seharusnya aku tidak melakukan itu!” ujarnya kepada Yahya. Dia menghabiskan waktu malamnya di rumah Yahya.

Sambil menatap bulan yang juga ikut merenung, dia masih tidak bisa menerima apa yang terjadi. Meskipun sabab-musababnya adalah kelakuan dia sendiri dan teman-temannya.

“sudahlah, paling hanya sesaat. Besok kau datang dan meminta maaf saja.” Jawab Yahya.
“aku tidak siap dimarahi pak Kades.” Keluh Ropi. “Aku yakin Julaeha malam ini menceritakan semuanya. Aku juga tidak mau pulang sebab pasti pak Kades telah menemui abahku. Tamat pula riwayatku nanti kalau aku di rumah.”

“baiklah, menginap saja di sini. Ibumu pasti tahu di mana kamu menginap.” Jawab Yahya sambil tersenyum.

Perasaan Ropi campur aduk. Bagaimana mungkin, hampir saja merpatinya Ia dapatkan, dalam sekejap merpati itu terbang lagi. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri terhadap apa yang Ia telah perbuat. Namun lucunya, dia juga menyalahkan mengapa Ia terlalu jujur bahwa telah melakukan hal yang keliru.

Dalam hatinya dia berfikir, “seharusnya aku tidak usah menceritakan apa-apa saat melewati pos ronda tadi. Itu kesalahan fatal.”

Ropi meminta solusi terbaik dari Yahya. Karena Yahya memang tidak terlibat dalam corat-coret pos ronda, Ia hanya bisa tersenyum tanpa merasakan betapa rumitnya pikiran Ropi saat itu.

Sebab hukumnya adalah demikian. Kita seringkali berkeluh kesah pada masalah yang kita hadapi pada orang yang belum berpengalaman dalam persoalan tersebut. Maka pada akhirnya pun, orang yang mendengarkan hanya bisa berusaha bersimpati. Bukan simpati yang sejati.

“bagaimana kalau, besok pagi sekiranya pukul delapan, aku menggunakan sepeda membeli sekaleng cat warna putih dan kuasnya. Segera aku cat kembali pos ronda itu di tengah malam sehingga tidak ada yang melihat. Dan lusa, saat pak Kades melintas menuju kantornya, dia lihat itu sudah bersih.” Tanya Ropi kepada Yahya.

“hmmmm boleh juga.” Jawab Yahya singkat. Namun ini membuat Ropi tidak puas.

“ah, terlalu kelamaan. Bagaimana segera aku cat sesaat setelah membeli kaleng cat itu?”

“boleh, lebih cepat lebih baik. Tapi siapkah kau dilihat atau bahkan dikomentari oleh warga yang melintas?” tanya Yahya.

“Iya juga. Aku tidak siap. Aku bingung.”

“bagaimana kalau kau menemui Julaeha terlebih dahulu dan meminta maaf?”

“Jangan, ini bukan perkara Julaeha. Akarnya adalah tulisan ‘welkome’ di dinding itu.” Jawab Ropi.

“tapi kau tidak mau kehilangan kesempatan padanya, kan?”

“ya.” Ropi kembali menatap bulan. Sekiranya satu menit, dia tersenyum lebar karena mendapatkan ide yang menurutnya cemerlang. “Ah ini akan jauh lebih baik! Besok pagi aku akan datang ke kantor pak Kades.”

“lalu?”
“aku akan bercerita jujur dan memohon maaf atas kejadian pos ronda. Aku akan bertanggung jawab. Bahkan kalau diizinkan, aku akan membeli kaleng cat dan mengajak teman-temanku untuk bersama-sama menghapus tulisan itu.”

“pintar juga kau wahai bocah! Hahaha.”

“dengan begitu pasti aku akan mendapatkan simpati dan dimaafkan oleh Julaeha.”

Cukup menarik. Anak remaja seperti Ropi bisa berfikir demikian. Atau memang sudah pantasnya untuk memiliki ide ini. Atau karena terlalu banyak menonton sinetron di televisi. Sudahlah, pada intinya Ropi sudah tau apa yang akan Ia lakukan besok. Maka kini Ropi bisa tidur dengan nyenyak.

Di pagi hari dia bergegas pulang ke rumah, kemudian makan pagi dan mandi pagi untuk bersiap menemui Pak Kades. Saat tiba di rumah, tak ada yang berbeda. Ternyata ayahnya tidak tahu perihal kejadian pos ronda. Ini sedikit membuat Ropi tenang.

Tepat pukul delapan pagi Ropi sampai di kantor pak Kades. Tidak lama kemudian pak Kades juga tiba dengan sepeda motornya. Dengan senyum paginya yang sumringah pak Kades menyapa warga yang tinggal di sekitar kantor kepala desa. Berbeda dengan Ropi yang mulai berdebar jantungnya sedikit lebih cepat.

Ropi menarik napas panjang, kemudian tersenyum. Hari ini dia yakin, sangat optimis, bahwa dia akan menjadi seorang pria sesungguhnya. Yang mengagumkan pak Kades atas kejujurannnya dan dapat pula meluluhkan hati Julaeha.

“Assalamualaikum, Pak Kades.”

“Waalaikumussalaam. Ya, ini Ropi kan? Ada apa nak Ropi?”

“boleh bicara sebentar pak Kades. Barangkali di ruang tertutup.” Ucapan Ropi sedikit membuat alis pak Kades bergerak dan bertanya-tanya. Tapi tak dibawa susah, pak Kades menyetujui dan mengajak Ropi masuk ke ruang pak Kades.

“karena masih pagi, silahkan saja bicara. Sebelum warga berdatangan, jam 10 pagi ini akan ada pengumuman penting untuk warga. Para kepala keluarga akan berkumpul di sini.” Ujar pak Kades, dan Ropi mengangguk.

“ya, Pak Kades. Begini, hmm sebenarnya,” jantung Ropi semakin berdebar dan sambil terbata-bata, dia menyatakan, “hmm, saya, dan te... te... teman-teman saya, kami yang mencorat-coret dinding pos ronda.” Ropi menghembuskan nafas yang panjang setelah mengungkapkannya. Dalam hatinya, dia yakin sekali dia telah berhasil. Pada akhirnya keluh kesahnya telah berhasil diungkapkan. Serta akan membuat pak Kades merasa kagum. Ah baiknya dunia ini, menurut Ropi.

“Oh ternyata kalian?!” tanya pak Kades dengan naik pitam. “Tidak tahukah kalian betapa pentingnya kebersihan, kerapihan, keramahan lingkungan. Sudah tiga tahun berjalan saya dan para pengurus di kantor desa, bergotong-royong bersama warga untuk menjadikan kampung kita bersih? Menjadikan kampung kita kampung contoh untuk kampung-kampung yang lain? Apa yang kalian pikirkan sebenarnya? Ternyata ini yang dimaksud Julaeha bahwa dia mengetahui siapa pelakunya. Ternyata, sebelum kami tangkap, pelaku justru datang menjemput azabnya.” Pidato singkat, padat, jelas, dan dengan nada yang tinggi keluar dari mulut pak Kades.

Ropi tidak bisa berkutik. Hanya tertunduk lesu. Bayangannya bahwa pak Kades akan memaafkan langsung ternyata hanya sebuah khayalan. Apalagi pak kades akan kagum, tak mungkin. Hilang pula harapannya bahwa Ia akan dianggap sebagai pria yang bertanggung jawab oleh Julaeha.

Masih dengan nada yang tinggi, pak kades melanjutkan, “tak perlu kerja keras ternyata bagi kami untuk mencari pelaku. Pada awalnya, saya berniat mengumumkan kepada para kepala keluarga untuk bantu kami mencari para pelaku. Tapi, dia telah datang. Maka pukul 10 nanti acaranya akan saya ganti menjadi pengumuman bahwa pelaku telah ditangkap, dengan menyerahkan diri. Kamu wajib berdiri di samping saya, serta sebutkan nama-nama yang terlibat.”

Ropi semakin kalut. Dia bingung. Apa kata ayahnya nanti. Bagaimana nanti dia menghadap Kyai Aziz di masjid setelah shalat zuhr. Dia juga memikirkan cemooh apa yang akan teman-temannya ucapkan di kelas siang nanti. Lebih-lebih, bagaimana jadinya sikap Jualeha meski ia yang pertama tahu hal ini. Ropi bingung, Ropi tidak berkutik. Duduk lesu dengan kepala tertunduk di ruang pak kades.

Jujur pun perlu waktu yang tepat. Ucap Ropi pada dirinya, seraya menyesali perbuatan dan keputusannya untuk jujur.




Komentar