4. Pasar Kenangan


Akhir pekan ini, ayah telah merencanakan wisata ke pasar malam. Pasar malam cik! Menarik bukan? Memang tinggal di kampung sangatlah sulit. Akses tidak mudah. Keinginan untuk mengunjungi kota besar hanya angan di atas angin. Atau bahkan di langit nun jauh di sana. Bisa pula tembus bumi, apalagi buat kami keluarga yang biasa saja. 

Dari dulu kami hanya sering dengar nama “Taman Ria Remaja” di Jakarta. Tak pernah melihatnya melalui TV di pos ronda, apalagi lihat langsung. Begitulah, tapi kami tetap senang. Sebab tak ada pengaruhnya pula bisa melihat itu secara langsung, mungkin kebahagiaan sesaat saja dan menjadi kenangan beberapa hari setelahnya.

Paman Salim namanya, seorang juragan yang sedia kala setiap bulan menyediakan pasar malam. Entah dari mana uangnya, namun dia bisa memanggil para penyumbang untuk pasar malam. Sehingga menyediakan ladang usaha bagi warga kampungku meski hanya tiga malam dalam sebulan. Tetapi kami senang dengan itu.

Sedikit cerita, Paman Salim, begitu kami memanggilnya karena kebaikannya kepada anak-anak dan warga sekitar, adalah salah satu dari beberapa orang di kampung kami yang berhasil bertahan hidup di kota besar. Aku pun tidak tahu di mana dia tinggal, bersama keluarganya atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya peduli padanya ketika datang ke kampung kami dengan hampir sepuluh truk yang membawa peralatan untuk pasar malam.

Pasar malam bulan ini akan ada pada akhir pekan ini. Sedari hari Senin, aku tidak bisa tidur. Sulit sekali rasanya, entahlah mengapa. Aku mengajak teman-teman untuk mengunjunginya bersama ayah. Namun mereka tidak mau, bosan mungkin atau bagaimana. Hari demi hari semakin membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan H-2 teman! Semakin gugup. Tetapi waktu terasa semakin lama.

Bahkan buruknya, aku tidak fokus di kelas. Sebagai santri Kyai Aziz, aku harusnya menunjukkan ketekunanku agar tidak memalukan ayah. Tetapi angan-angan pasar malam dan ajakan ayah sangat meracuni perasaanku. 

Meski demikian, aku tetap mengerjakan tugas meski seadanya. Yang penting sabtu malam, aku ke sana. Apalagi ada komidi putar manual di sana, yang beberapa laki-laki muda berbondong-bondong ikut memutarkannya.

Hari Jumat, aku semakin tergila-gila. Aku sudah melihat isi lemariku dan memilih baju terbaik apa yang akan aku pakai. Pasar malam teman! Hebat bukan? Aku tidak akan menggunakan baju buruk atau bahkan robek untuk ke sana. 

Aku juga tidak akan membuat ayah malu terhadap hal itu. Kuputuskan pakai baju bergambar pahlawan super berwarna merah bertuliskan Power Rangers  karena dicetak miring.. Dengan celana pendek bahan jeans dan sendal jepit hijau, rasanya aku paling tampan esok malam.

Hari itu pun tiba, aku sudah tidak terbayang lagi. pagi di sekolah, aku sudah tidak fokus. Padahal ada pelajaran yang sangat menarik, yaitu belajar berpuisi bahasa Indonesia. Tetapi entahlah, pasar malam bagaikan kabut yang menyelimuti lembah gunung ini. aku sangat senang hari itu.

Adzan shalat Zuhr menandakan jam belajar hari Sabtu berakhir. Guruku menutup pelajaran, tidak membuang waktu, aku langsung berdiri dan cium tangan guruku. Aku lari ke rumah. Karena aku tidak sabar untuk ke pasar malam.

Ayah, yang sedang bersiap menuju masjid, terheran melihatku berlari masuk rumah. Tanpa salam. Aku buka lemari, aku pastikan baju terbaikku sudah siap dan lurus rapi bak rambut yang disisir klimis. Ah, kapan lagi. Bisa jadi bulan depan sudah berbeda.

Selepas shalat Zuhr, ayah berbincang dengan Pak Rizal. Tak begitu kukenal Ia, namun ayah bilang bahwa Ia adalah temannya saat menjadi murid Kyai Aziz. Kini tinggal di hilir. Aktif mengajar sebagai guru bahasa Arab dan agama Islam di sebuah madrasah milik pemerintah.

Ternyata ayah mengajak Pak Rizal untuk berkunjung ke pasar malam. Tak tahu jelas aku alasan ayah apa untuk mengajaknya. Tapi tak masalah, yang terpenting aku akan ke sana malam ini. sangat spesial!

Detik demi detik terasa sangat lambat. Aneh sekali. Jam dinding menjadi musuhku hari ini. Ia mengerjaiku, mungkin ia juga tertawa sekarang. Apa maksudnya berputar sangat lambat. Ibuku, yang memerhatikanku sedari tadi, hanya bingung.

Hingga pada akhirnya waktu berangkat pun tiba. Selepas shalat Isya, ayah memboncengku di sepeda motornya. Ah, aku sangat senang malam itu. Aku ingin menaiki komidi putar. Itu yang terpenting, tak apa bahkan tuk sepuluh kali. Aku tidak peduli.

Cukup lima belas menit untuk menuju pasar malam dengan menggunakan motor dari rumahku. Saat sudah dekat, aku tersenyum. Cahaya lampu temarang, mewarnai langit gelap malam itu. Tak lain itu bersumber dari pasar malam.

Setelah memarkir motor, ayah berjalan di samping ku. Menuntunku yang hanya bisa terperangah dengan pasar malam. Ramai sekali malam ini. Di antaranya aku melihat ada pak kades, beberapa awak kapal, orang-orang suku Banjar, dan juga beberapa orang pedalaman Dalai. Semua bercampur dan menghabiskan malam minggu ini di pasar malam.

Tak lama berselang, ku dengar ada suara yang memanggil nama ayah. Ternyata itu pak Rizal. Ternyata lagi, Ia tidak datang sendiri. Dari kejauhan, kulihat tangannya menggandeng sebuah mutiara. Semakin dekat, semakin penasaran aku siapa yang Ia tuntun.

“Assalamualaikum.” Salam dari pak Rizal. “ah kenalkan, ini ratuku di rumah, Humairah, 8 tahun.”

“Waalaikumussalaam. Jelita sekali anakmu, Rizal.” Sapa ayah sambil tersenyum. “oh ya, Humairah, ini anak paman, Abdul Muhaimin, masih 10 tahun.”

Aku hanya bisa tercengang. Untuk pertama kalinya, aku melihat sebuah mutiara yang berada di atas lautan lumpur hitam. Saat tersenyum, pipinya menunjukkan lesung pipit yang sangat indah. Seperti bulan di akhir masanya. Bahkan berwarna kemerahan, sama seperti namanya, Humairah. 

Tingginya hampir sama denganku, meski aku sedikit melebihinya. Rambutnya tidaklah panjang, hanya sebahunya. Senyumnya bagaikan burung camar yang sedang menggoda. Sulit diungkapkan kawan! Manis sekali. Bagai madu dari tanah Yaman. Bak Kurma asli kota Madinah. Kutatap iya, sedetik kemudian, aku menundukkan kepalaku. Matanya sangat indah. Aku tak bisa lagi berbuat apapun.

Ternyata Humairah sekolah di tempat ayahnya mengajar. Aku belum berani banyak bertanya, sebab wajahnya mengalihkan pandanganku. Hampir aku lupa dengan pasar malam. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Yang kata orang-orang itu membutakan. Aku merasa buta pada sekelilingku. Hanya ada wajahnya yang memenuhi pandanganku.

Aku menaiki komidi putar, ditemani ayah. Juga ikut Humairah. Salah tingkah rupanya aku. Tidak banyak melontarkan kegembiraan, bahkan ayah menyangka aku sakit. Sedang Humairah, tertawa dan tersenyum, menatap ayahnya, dan terkadang menatapku.

Selain menaiki komidi putar, aku juga melihat beberapa atraksi seperti badut sulap, kera yang sudah terlatih, atraksi kucing dan anjing, dan atraksi seekor kuda yang gagah berani bersama koboinya. Sedikit-dikit kucuri pandanganku, melihat betapa jelitanya ciptaan Tuhan yang kutemui malam ini.

Setelah itu, ayah mengajakku ikut makan malam di paman (abang) yang menjual bakso. Kami berempat duduk di atas tikar sambil berbincang tentang pertemanan ayah dan pak Rizal saat menjadi murid Kyai Aziz. Ya, tidak banyak perbedaan sebagai murid zaman sekarang dengan murid kyai zaman dahulu. Mungkin hanya jumlah teman mereka yang sangat sedikit.

“Kamu suka pelajaran apa?” tiba-tiba suara indah itu keluar, ah bagaikan burung kutilang bersiul. Merdu sekali. Jantungku tiba-tiba berdebar.

“eh, eh, hmm, bahasa. Ya, aku suka mempelajari bahasa.”

“oh ya? Aku juga! Ayahku mengajarkanku bahasa Arab.”

“aku masih kesulitan untuk bahasa Arab. Tapi aku suka pelajari puisi bahasa Indonesia.” Tanggapku polos.

“suka puisinya Hamzah Fansuri? Atau kata-kata indahnya Amir Hamzah? Atau Hamka?” tanyanya dengan wajah penuh keingintahuan.

Ah, hebat sekali. Seusia delapan tahun, sudah mulai mengetahu beberapa nama penyair ternama negara kita.

“Chairil Anwar!” ku jawab.

“oh angkatan 45! Dia sangat hebat, apalagi puisi berjudul Aku dan judul Karawang-Bekasi. Sastra kelas wahid! Jangankan di puisinya, surat-suratnya kepada sahabatnya, Jassin, juga sangat menarik. Kalimat-kalimat tersusun bagai kalung dari kumpulan permata ditambah berlian sebagai daya pikat pembaca. Bukan main!”

Aku hanya bisa terdiam. Ya, aku mengaguminya. Intelektual dan wawasan sastranya. Aku jadi ragu untuk menimpali ajakan diskusi kecilnya itu. Aku khawatir salah bicara. Kujawab sambil tersenyum, “dia penyair yang inspiratif.”

“sudah jam 10 malam, yuk kita pulang!” pak Rizal bilang.

“Iya, sudah waktunya anak-anak istirahat.” Jawab ayaku.

Aku tidak rela untuk pulang. Malam ini sangat indah. Aku bertemu mutiara yang cerah wajahnya, dan bagai permata intelektualnya. Ya, aku mengaguminya.

Selama perjalanan hingga sampai di rumah, aku selalu tersenyum. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Serta bertukar wawasan tentang sastra. Atau aku belajar bahasa Arab darinya. Apapun itu, aku ingin bertemu dengannya.

Ah, malam ini sangat indah. Baik pasar malam, dan juga orang-orangnya. Aku berterima kasih padamu, pasar malam, pasar penuh kenangan.

Komentar