1. Sulit
Sulit
Tidak mudah memang hidup di tengah perkampungan. Setidaknya ini yang aku rasakan. Bukan soal aku tidak bersyukur pada Sang Pencipta. Bukan. Aku, terkadang, hanya ingin merasakan kota di luar sana. Bukan kampung ini setiap hari. Orang-orang yang pernah pergi ke kota dengan indahnya bercerita betapa mudahnya hidup di kota. Ingin ke sini ada kendaraan umumnya. Ingin ke sana dapat menumpang sepeda motor, minimal bermerk legenda. Bingung ingin tidur, banyak mereka memilih teras masjid. Terkadang beralas kardus di sudut toko pun nyaman. Setidaknya ini yang mengimpikanku untuk merantau ke kota.
Aku tinggal di pelosok. Nama kampungku tidak terlalu sulit. Kampung Tanjung Daha namanya. Mungkin tidak mudah mencari di peta atau bahkan buku atlas yang setebal novel Alchemist karya Coelho. Bila tuan ingin ke kampungku, cukup mudah. Dari kota Banjar pilihlah bus semi ¾ yang saat ini memang sudah reot. Jika jalan sedikit tidak rata, serasa bus ini akan hancur lebur. Ban depan akan lari ke kiri, ban belakang pun demikian, mengejar ban depan. Seolah-olah pemilik atau pun awak bus tidak pernah mengurus pernya. Bus berwarna hijau dan bergaris kuning. Milik Koperasi Intan Jaya aku rasa. Tuan hanya tinggal menumpang bus dari terminal AKAP Pal 6. Lalu sekitar 4 jam mengarah ke utara dengan bus itu, turunlah di dekat pelabuhan Banua. Tuan jalanlah sedikit dan masuk ke pelabuhan. Lalu menyisi sungai Banua Intan sekitar 50 meter dan tuan akan tiba di dermaga paling ujung. Ada perahu bermesin motor kecil di sana. Belilah karcis dan sebutlah Tanjung Daha. Tuan akan tiba di kampung ku 3 jam setelah keberangkatan.
Cukup mengenaskan kondisinya. Akses menuju kampungku sangatlah suram. Jalan aspal telah rusak. Bahkan rasanya ini bukan sebuah jalan. Aku tidak mau membahas Pemerintah di sini. Mungkin mereka masih memusatkan perhatian mereka pada kampung lain. Bila tuan menggunakan kendaraan seperti mobil, melalui jalan itu seolah berjalan di tengah padang pasir yang hampa. Sunyi. Senyap. Membahayakan. Tentu, fatamorgana setiap 5 menit. Maka kami lebih mengutamakan transportasi sungai, dengan perahu bermesin atau kami menyebutnya Klotok.
Fasilitas masyarakat? Ada, tapi tidak banyak. Ada tiga sekolah dasar di sini. Dua sekolah menengah pertama. Satu sekolah menengah atas. Satu pondok pesantren yang besar, memuat hingga tingkat kejuruan dan juga menengah atas. Santrinya hanya orang-orang di kampung kami. Kyai Aziz, adalah pemimpin pondok tersebut. Kyai Aziz adalah kyai pendiri pondok yang resmi beroperasi sejak 28 tahun silam. Lebih tua lima tahun dariku. Aku sendiri jebolan pesantren ini. Namaku Abdul Muhaimin. Jika aku tak salah, ayah memberikan nama ini berdasarkan rekomendasi dari Kyai Aziz. Hubungan mereka sangat dekat. Bukan saudara sedarah, tapi memang ayah juga murid beliau di masjid Ar Rahman, masjid yang menjadi pusat pondok pesantren Ar Rahman. Meski kami di pelosok, prestasi pesantren ini cukup memuaskan. Kami selalu menang lomba pramuka tingkat Kabupaten Sungai Hulu.
Kyai Aziz merupakan tokoh masyarakat di sini. Beliau bukanlah kepala desa atau mudahnya kades, tapi beliau dapat kita bilang penasihat satu pak kades. Kira-kira beliau saat ini berusia 65 tahun. Karena ayah saja sekarang sudah 51 tahun. Aku? Baru saja lulus dari pondok. Aku saat ini 19 tahun. Aku memilih mengabdi pada pondok untuk beberapa waktu kedepan. Aku tidak tahu sampai kapan. Sedikit bangga karena aku bisa bilang ke tetangga bahwa aku punya pekerjaan tetap. Meski terkadang dibayar dengan beras untuk bulan ini, sayur-mayur di bulan selanjutnya, atau buah-buahan dalam dua bulan ke depan. Bukan masalah bagiku, karena aku suka mengajar.
Ayahku tidak pernah menentang terhadap apa yang aku kerjakan saat ini. Dia adalah pendukung serta motivator hidupku. Aku ingat ketika dia bilang, “selama kamu mencintai apa yang kamu lakukan, dan itu di jalan yang benar, teruslah maju.” Setidaknya itu yang membuatku selalu melangkah. Di usia kepala lima saat ini, beliau masih memiliki semangat dalam menafkahi Ibu dan aku. Kakakku kini sudah jadi tanggung jawab suaminya, tinggal di kampung sebelah. Sama suramnya. Ayah bekerja sebagai penyedia jasa antar kayu dari Hulu ke Banjar untuk diolah. Dia punya kapal yang cukup menampung 2 ton kayu Jati. Perjalanan sehari dari Hulu ke Banjar, sehari kemudian pulang ke kampung kami. Pekerjaan ini sudah dilakukannya sebelum menikah. Mereka menikah di usia yang sedang, kira-kira 25 tahun. Fisik ayah masih gagah menurutku. Beliau juga dikenal sebagai imam masjid bilamana Kyai Aziz sedang tidak ada di kampung.
Pernah suatu hari, Kyai Aziz sedang pergi ke kota. Tidak tahu kami apa alasannya. Tidak ada pula imam di sana. Ayah sedang pergi ke Hulu menjemput kayu setelah subuh tadi pagi. Adzan Zuhr berkumandang. Aku berjalan ke masjid, yang memang sangatlah dekat dengan dari rumahku. Lebih dari 15 menit para santri duduk menunggu iqamah. Tak ada suara. Santri-santri di depan terlihat kebingungan. Tidak ada imam. Aku rasa tradisi ini agak berbeda. Imam yang ditunjuk oleh kyai-lah yang dipercaya. Namun, hari itu kyai tidak menunjuk siapa pun. Aku rasa kyai mengira ayah ada di rumah hari ini. Padahal tidak. Pengajar pesantren yang lain pun tidak berani melangkah. Yang hanya aku pikirkan adalah, kapan shalat akan dimulai. Hal yang sepele sebenarnya. Keluarlah sifat pemberontak di diriku. Aku bergegas ke depan dan meminta Majid, si santri yang aku rasa sangat baik akhlaknya, untuk mengumandangkan iqamah. Semua pun berdiri, secara ragu-ragu.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkomentar. Akan saya pelajari untuk menjadikan konten ini semakin baik ya.