Hadzami dan Mala

Para nelayan sedang bahu membahu menyiapkan jejaring untuk berlaut malam ini. Matahari sudah mulai tersipu malu di barat. Beberapa awak kapal, dengan ukuran yang sedikit lebih besar, juga sudah mulai terlihat sibuk dengan persiapan kebutuhan berlayar malam ini. Setidaknya ada gentong isi solar, bahan makanan, dan umpan. Di seberang garis pantai yang dibelah oleh jalan, anak-anak nampak asyik bermain sepak bola. Bahkan mereka tanpa menggunakan sepatu.

Hadzami tetap berjalan menunduk. Beberapa kerikil kadang ia tendang. Hatinya sedang remuk dan ia merasa seperti peran pecundang di film barat yang baru saja gagal dari pekerjaannya, memegang jasnya dengan tangan kirinya dan menggenggam sekaleng bir di tangan kanan. Hiruk pikuk sekelilingnya, becak yang lalu lalang, semangatnya para nelayan, senyumnya para pedaganng pasar karena telah untung banyak di hari ini, sekalipun tidak menggairahkan jiwa Hadzami. Bahkan, mentari yang semakin menghilang, juga mendukung kelamnya suasana Hadzami.

Ia mendengkus. Ia memilih berdiri di pinggir pantai dan tidak langsung pulang. Melihat elang melayang atau pelikan mencari mangsa. Semua tetap terasa hambar. Derasnya ombak sekalipun tidak berani memecah perhatian Hadzami. Sekali lagi ia mendengkus bersamaan dengan memejamkan matanya. Pikirannya membawa dirinya berjalan kembali ke kiranya dua tahun lalu. Pada kali pertama Siti Nirmala, atau akrabnya Mala, menyapa dirinya.

Masih di sekitar pantai di mana Hadzami kini berdiri, dua tahun lalu Mala tiba-tiba berada di sampingnya. “Di sini sendu.” Hanya itu yang dikatakan Mala, tetapi menjadi gerbang petualangan mereka berdua. Hari itu, Hadzami hanya membalas dengan senyuman.

Mala adalah teman Hadzami di bangku sekolah dasar. Setelah lulus, mereka bersekolah di dua sekolah yang berbeda. Mala tetap di kampung Bestari. Hadzami memilih mondok di Riau. Hari itu menjadi kali pertama mereka kembali bersua setelah lebih dari 10 tahun.

Dua hari kemudian, di sekitar jam yang sama, ketika marbot sudah mulai memutar rekaman seorang Qori kondang di Indonesia, Hadzami kembali berdiri menikmati hangatnya punggung cakrawala. Kemerah-merahannya mentari semakin membuat Hadzami ikut tersipu. Bau amis khas pinggir pantai pun menjadi hilang karena nikmatnya kehangatan udara senja.

“kau lagi, kau lagi. Siapa yang engkau tunggu, Hadzami?” Mala kembali menyapa. Ia baru saja pulang dari pasar.

“kau membeli apa saja di pasar?” respon getir Hadzami.

“hanya membeli taplak meja saja. Apa kabarmu Hadzami?”

“tidak banyak berubah. Aku suka berdiri di sini dan berbincang dengan matahari.”

“amboi, teman lamaku punya ilmu khas rasanya.”

“tidak, tidak. Aku suka suasananya. Bagaimana dengan kabarmu, Mala?”

“ya, baik-baik saja. Aku hanya selalu bantu orang tua di rumah.”

Perbincangan singkat mereka tetap lanjutkan. Pukulan bedug yang memisahkan mereka.

Beberapa hari kemudian, justru Hadzami yang mendapati Mala berdiri di tempat yang sama. Hadzami ikut berdiri di samping, memejamkan mata, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya. Lebih dari 10 menit mereka hanya berdiri tanpa berkata. Saat rekaman mengaji sudah diputar, keduanya membuka mata dan tersenyum. Mereka memutuskan berjalan bersama menuju rumah masing-masing.

“kau sibuk apa, Mala?’

“aku? Sehari-hari hanya menjadi resepsionis di bank di desa ini. Sudah tiga tahun lebih aku di sana. Liburku tidak menentu. Terkadang hari senin dan selasa, terkadang kamis dan jumat, atau minggu dan senin. Melelahkan, bukan?”

“boleh jadi. Kalau memang apa yang kamu kerjakan adalah hal yang bukan kewajibanmu.” Jawab Hadzami sambil tersenyum.

“apakah kamu juga bekerja, Hadzami?”

“Belum. Aku masih menunggu proses kelulusan. Syukurlah aku tidak perlu menunggu di indekos hanya untuk menunggu ijazah saja.”  

Mereka tidak hanya sekali itu bertemu, atau satu pertemuan sebelumnya. Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertemu. Setelah lama saling berinteraksi, akhirnya Hadzami berinisiatif mengajak Mala untuk menonton layar tancap. Itulah satu dari beberapa hiburan warga desa.

Semakin sering bertemu, semakin terbuka lah pula hal-hal tersimpan di antara mereka berdua. Mala beberapa kali menceritakan tentang pengalaman dan perjalanan hidupnya serta masalah yang ia telah dan mungkin sedang dihadapi. Begitu pula Hadzami yang juga terbuka kepada Mala. Mereka juga semakin sering terlihat menghabiskan waktu senja di pinggir pantai dan menatap matahari ditelan ufuk.

“kau percaya, bahwa sejatinya tidak pernah ada kecelakaan dalam hidup? Maksudku, hal-hal seperti tidak sesuainya minat dengan jalan yang kita ambil. kan itu seringkali dianggap sebagai kecelakaan.” Hadzami membuka pembicaraan.

“bisa jadi. Ku kira itu memang sudah takdir yang sudah tidak dapat kita ubah.”

“bisa jadi juga. Kalau bicara soal takdir, itu adalah hal yang sulit. Beberapa sudah ditentukan, beberapa hal lain memang dapat kita usahakan. Termasuk yang kumaksud seperti ini. Kehidupanku selalu baik. Aku sangat amat syukuri itu. Tapi dalam hal mencari pekerjaan, setelah tiga bulan Ijazahku keluar, aku tidak pernah mendapat panggilan. Padahal, sudah lebih dari lima kali aku ke Riau untuk melamar pekerjaan satu tempat ke tempat lainnya.”

“aku masih belum faham.”

“iya, sampai akhirnya di sebuah kantor di kota Riau yang menerima lamaranku. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku ambil pekerjaan itu. pekerjaan itu tidak sekalipun aku minat. Tetapi mengapa pekerjaan itu yang menerimaku?”

“karena maksudmu kecelakaan itu?”

nah. Beberapa orang mungkin berfikiran itu. tapi sejatinya tidak. Benar yang kau sebutkan di awal, bahwa itu juga bagian dari takdir. Aku percaya, Yang Maha Kuasa ingin aku mendapatkan rezekiku dari pekerjaan ini terlebih dahulu. Maka sejatinya seharusnya itu bukan dianggap kecelakaan.”

Mala tersenyum. Pembicaraan-pembicaraan kecil seperti ini, khususnya ketika berbicara mengenai kehidupan, menunjukkan sekali bahwa pemikiran Hadzami sudah cukup matang. Mala pun hanya menatap Hadzami.

Hazdami sadar akan hal itu. Ia tanyakan Mala apa yang terjadi dengan dirinya sehingga Mala menatapnya terus. Hadzami, yang mungkin juga tidak polos, sadar bahwa Mala menyimpan kekaguman pada dirinya. Bukan hanya sekali itu, melainkan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, serta juga sesudahnya.

Komentar