2. Merpati

Merpati


Entah apa lagi yang cocok selain merpati untuk sebutannya. Manis sekali senyumnnya. Julaeha namanya, si puteri sulungnya kepala desa. Kecantikannya melibihi kembang desa sekali pun. Tak paham lagi bagaimana penciptaan Tuhan atasnya.

Suatu hari, Julaeha terlihat sangat terburu-buru. Tak tahu mengapa, tapi berjalan lebih cepat dari pada orang berlari. Heran sekali warga pada siang itu. Mukanya pucat bak menyiratkan ada suatu yang tidak beres dan harus segera dituntaskan.

Dia berjalan dengan tidak peduli siapa pun. Di desa ini, tak lazim rasanya seorang anak kepala desa bersikap demikian. Warga menganggap Julaeha sombong, meski kebaikan yang dilakukan sebelumnya banyak dilakukan. Nila setitik merusak susu sebelanga, kiranya itu yang paling pas.

Dia menuju klontong di pinggir pelabuhan klotok. Mengejutkan, dia membeli kopi dan rokok. Apa iya Julaeha merokok? Tak apa lah, terserah dia, buat apa dirisaukan.

Warga bertanya-tanya. Ibu-ibu langsung bergosip. Pemuda-pemuda mulai mengatur strategi bagaimana membantu si merpati. Bapak-bapak cuek, fokus pada mengais rezeki. Anak-anak pun cuek dengan permainan kelerengnya.

Ropi, jejaka yang merasa dirinya paling hebat di desa, punya strategi yang ciamik. Dia tak peduli kalau dia hanya anak seorang peternak. Segera berlari dia ke rumahnya untuk minjam sepeda ontel ayahnya.

Memboncengnya! Itu adalah solusi. Jejaka lain naasnya tidak memiliki sepeda. Maka jok sepeda adalah keunggulan yang dimiliki Ropi.

Tak pakai izin, Ropi langsung ambil ontel ayahnya yang terparkir di depan rumahnya. Ropi mendorong pedal sekuat tenaga dengan penuh harapan agar si merpati belum pergi dari klontong.

Julaeha semakin pucat dan keringat dingin. Engkoh Ahong, pemilik klontong, lambat sekali dalam mencari uang kembalian. Kaki Julaeha gemetar. Andai dia benar-benar merpati, pasti dia sedikit lebih tenang karena bisa mengepakkan sayapnya.

“lama sekali ngkoh! Bisa lebih cepat?” Julaeha semakin gugup.

“apa bisa hutang dulu?” engkoh mulai ikut panik.

“tidak bisa! Abah marah-marah. Dia marah soal pos ronda yang dicorat-coret!”

“tunggu dulu, aku pinjam uang enci dulu.”

Setelah uang kembalian digenggam oleh Julaeha, dia langsung keluar, lupa berterima kasih sepertinya. Jalan cepatnya terhenti karena tepat pula Ropi tiba di hadapannya dengan ontel hitam warna mengkilat itu seperti baru saja disemir.

“yuk, aku antar. Supaya kamu lebih cepat sampai di rumah” ajak Ropi yang seolah-olah telah paham kondisi dan berhasil membaca situasi dengan baik.

Dilema bagi Julaeha. Karena dia punya memori yang sedikit mengganjal terhadap Ropi. Ya, kira-kira bulan lalu Ropi mengajaknya menikah. Tak mungkin rasanya bagi Julaeha, keduanya masih 18 tahun.

Mereka belum banyak bersama, tidak di ruang dan waktu yang sama. Sekolah berbeda. Ropi sekolah negeri, Julaeha adalah santri puteri terbaik Kyai Aziz. Mereka bertemu dalam permainan anak-anak biasanya, terkadang petak umpat, petak jongkok, atau kelereng.

Julaeha hanya sedikit bimbang waktu itu. Dia belum mengenal betul Ropi. Tidak ada yang spesial dalam pertemanan mereka sebelumnya. Pertemuan hanya dalam permainan, itu pun tidak pernah memberikan kesan yang berarti. Maka dalam 12 menit, Julaeha menolak ajakan Ropi.

Kecanggungan Julaeha pecah karena paniknya terhadap sang kades yang sedang naik pitam. Dengan cepat, Julaeha mengiyakan tawaran Ropi. Bak seorang pahlawan di siang bolong. Dengan sepeda ontel, Ropi membonceng merpati dengan cepat melebihi kecepatan sepeda motor sekali pun.

Sambil membonceng, sambil pula tersenyum. Rasa suka, gembira, berdebar, galau, pusing, bingung, sombong, memiliki, dan peduli semuanya tercampur aduk dalam Ropi. Dia merasa hanya dialah yang pemberani karena membonceng merpati. Semua orang dia sapa seraya dalam hati memamerkan gadis cantik yang dia bonceng.

Dari awal, Ropi berdebar dan merasa tidak bernyali untuk mengajak Julaeha berbincang. Jantungnya lebih cepat berpacu ketimbang putaran pedalnya. Jarak yang tidak terlalu jauh antara klontong dengan rumah Julaeha, meski tidak juga begitu dekat, membuat Ropi semakin pusing bagaimana caranya agar dia tidak kehilangan momentum yang sangat tepat pada siang itu.

Rasa gugup Ropi membuatnya sulit menentukan topik pembicaraan. Tepat ketika sepeda melintasi pos ronda, Ropi mendapatkan topik yang menurutnya bisa dibanggakan di depan Julaeha.

“lihat pos itu! Bagus, kan?”

“apa maksudmu?” jawab Julaeha.

“ada tulisan welkome (tertulis: welcome)” Ropi bangga.

“Jadi kau yang biangnya?!” Julaeha tiba-tiba naik pitam

“maksudnya?”

“Abah marah besar hari ini karena pos ronda satu-satunya dari Pemerintah dicorat-coret. Bahkan, tulisannya sangat buruk. Memang apa sih yang bisa dibanggakan, Ha?” Julaeha semakin panas. “Kau tahu? Aku yang kena batunya. Dia marah-marah dari pagi. Segala yang kulakukan salah. Ini semua gara-gara kamu dan teman-temanmu itu! Stop di sini. Aku tidak mau diantar. Berhenti! aku tidak mau bertemu kamu lagi!” Emosi Julaeha mencapai titik didihnya.

Ropi berhenti. Julaeha turun. Ropi tak berkutik. Jantungnya yang tadi berdebar? Kini ikut pula tak berkutik. Seolah-olah patung yang hanya bisa melihat Julaeha berjalan cepat meninggalkannya, tanpa menoleh ke arahnya.


“sial!” Ropi mulai kesal dan menyesal. Dia putar balik sepeda ontelnya. Menuju rumah temannya, Yadi. Tidak lain dan tidak bukan, dia ingin menenangkan diri dari hal yang membuatnya hanya tercengang. Strategi ciamiknya? Gagal.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah berkomentar. Akan saya pelajari untuk menjadikan konten ini semakin baik ya.