Tetes Cinta (?)
Menarik memang, kalau kita,
dipaksa untuk berpikir tentang hal yang sungguh memang abstrak (dibaca: cinta).
Memikirkannya saja, sadar atau pun tidak, sudah membuang banyak tenaga. Dari
memikirkannya, timbul juga prasangka bahkan hingga bersyak wasangka terhadap
berbagai hal yang padahal belum tentu terjadi.
Cinta? apakah ia satu hal yang
penting dalam hidup? apakah ia hanya rasa belaka yang datang mengganggu benak
insan? Menariknya adalah, ia terkadang datang secara tiba-tiba, tanpa perlu
pemilik hati paksa. Namun ketika ia harus pergi, betapa susah untuk melepasnya
bahkan hanya sejengkal.
Tapi, kawan, percayalah! Justru ia
adalah dasar dari adanya kita. Ya, segala ciptaan di bumi. Ia hadir karena
cinta dari sang Pencipta. Bagaimana maksudnya? Saya coba uraikan berdasar pada
pengalaman saya dalam setahun ke belakang.
Pandemi ini telah mengubah
tatanan hidup masyarakat, tidak terlepas penulis sendiri. Segala hal perlu penulis
sesuaikan. Studi saya harus direlakan sedikit lebih lama karena ada perubahan
sistem. Memang beruntungnya, studi penulis sudah memasuki tahap akhir di
jenjang magister ini, yaitu tesis. Semua memang dapat dikerjakan secara mandiri
dari rumah. Tapi, akses buku-buku di perpustakaan tetap diperlukan. Lebih-lebih
bimbingan dengan dosen yang juga berubah dari tatap muka menjadi tatap layar alias
daring.
Selain
itu, penulis juga harus merelakan perginya pekerjaan yang mungkin sudah cukup
nyaman buat penulis. Tapi, mungkin ini memang jalan takdirnya, yang memang Tuhan
mengarahkan saya untuk fokus dulu pada tesis.
Berbicara
mengenai tesis yang kini sudah selesai, selalu ada euforia tersendiri. Ya, saya
membahas cinta suci. Bahasa ilmiahnya, mungkin, cinta ilahi. Saya mengkaji dua
karya masyhur dari dua penyair hebat dalam khazanah sastra: Ibnu Arabi dengan diwan
(antologi) puisinya Tarjuman al Ahswaq (dendang-dendang kerinduan)
dan Abdul Hadi WM. dengan antologi puisinya Tuhan Kita Begitu Dekat.
Tidak
perlu panjang lebar menjelaskan isi tesis ini, pada intinya saya mengkaji ekspresi
cinta ilahi dari kedua penyair itu dalam puisi-puisi mereka. Dalam proses
menulis tesis itulah, penulis menemui banyak sumber literatur yang juga membahas
tentang cinta. Mulai dari cinta biasa antar sesama manusia, atau bahkan cinta ilahi
yang memang sangatlah kompleks.
Banyak
sekali buku-buku yang penulis baca untuk melengkapi horizon atau cakrawala interpretasi
penulis tentang makna cinta. Buku-buku tersebut di antaranya adalah atfu
alif al ma’luf ‘ala al lam al ma’luf karya Ad Daylami atau Raudhatul
Muhibbin karya Ibnu al Qayyim al Jawzi. Dan banyak lagi, hingga satu buku
yang mencuri pandangan dan juga membuat penulis merenungkan kembali pada
kehidupan sehari-hari, yaitu novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.
Novel
ini bukan dijadikan sumber karena memang tidak dibolehkan menjadikan novel
sebagai referensi. Tapi, sengaja penulis kembali membaca (karena memang pernah
membaca novel ini sebelumnya) untuk mengasah penafsiran cerita atau juga bait
puisi yang dibuat oleh Pak Sapardi.
Sebenarnya
novel ini adalah alih wahana dari puisi-puisi beliau yang salah satunya juga
berjudul Hujan Bulan Juni. Kiranya tidak perlu lagi saya paparkan di sini tafsir
daripada puisi itu, karena memang telah banyak yang menginterpretasikan
bait-baitnya dengan sangat baik.
Tapi
memang, novel ini justru mengacaukan pikiran saya. Padahal, saat baca untuk pertama
kali, pikiran penulis tidak berputar-putar. Mungkin karena adanya pengalaman
yang penulis jumpai sepanjang 3 tahun setelahnya, pembacaan kedua ini menjadi
hal yang berbeda. Yang justeru juga menjadikan pikiran penulis menjadi
(mungkin) bijak.
Novel
ini menceritakan perjalanan hidup Sarwono dan teman, atau mungkin cinta sejatinya,
yaitu Pingkan. Keduanya merupakan dosen di perguruan tinggi. Sedari awal, Sapardi
sudah menunjukkan bahwa Sarwono memang menyimpan perasaan “suka” kepada Pingkan.
Sebelum
masuk lebih dalam, ada alasan mengapa saya memberi tanda kutip pada kata “suka”
di atas. Ya, senada dengan pembacaan penulis pada sumber-sumber literatur yang
mengkaji tentang cinta khususnya cinta ilahi, memang ternyata cinta itu bertingkat.
Dari situ penulis juga meyakini, bahwa adalah hal yang mustahil kiranya untuk
dikatakan “cinta” apabila ia datang untuk pertama kali. Yang ada, mungkin hanya
perasaan kagum atau lebih dari itu, yaitu tertarik. Cinta ada pada tingkatan
akhir.
Kembali
lagi kepada kisah Sarwono dan Pingkan, bahwa perasaan Sarwono meningkat kepada
Pingkan saat memang mereka melakukan dinas ke Manado. Memang, saat itu pikiran
Sarwono semrawut karena konfirmasi akan perginya Pingkan untuk studi di Jepang.
Tetapi, perjalanan mereka ke Manado merupakan satu tahap penting dalam hubungan
mereka kendati itu hanya perjalanan dinas.
Tetapi,
apa yang dikatakan Sapardi, bahwa untaian benang yang telah dirajut itu akan
sangat berpengaruh pada perjalanan ini. Saya melihat, bahwa pada intinya
perasaan Sarwono yang mungkin, akhirnya tidak tersampaikan sehingga tidak disambut
oleh Pingkan pun, meningkat ke tahap puncaknya di sini. Yaitu cinta. Cinta yang
tulus, bahkan.
Setidaknya,
dari novel ini ada poin-poin yang berhasil mengubah pandangan saya. Yaitu
kompleksitas cinta, sederhananya ekspresi cinta, dan kepastian yang memberi
ketenangan.
Barangkali
Anda ada di antara orang-orang yang skeptis akan cinta. Atau bahkan, Anda yang mengaku
menjadi orang realistis atau idealis, mungkin akan berpolemik sendiri dengan
cinta. Tapi, pengalaman dan pembacaan saya mengarah ke satu kesimpulan: cinta
sangat kompleks.
Saya
senada dengan pernyataan pak Sapardi. Cinta bagaikan sapu tangan yang terbuat
dari untaian benang yang jumlahnya sudah tidak dapat dikira. Tidak bisa, dan
sangat tidak bisa, cinta terbentuk hanya dalam sesaat. Seakan patung, ia perlu
dipahat dengan perasaan yang khidmat dari pemahatnya. Seolah sapu tangan, Ia sejatinya
perlu diuntai dari benang-benang. Terikat satu sama lain menjadi ikatan yang
kokoh. Maka, sukar diterima akal kiranya, kalau ada insan yang mau mengurai
kembali benang-benang tersebut yang dengan susah payah ia tenun.
Dari
hal itu saya pun menyimpulkan bahwa kalau seorang manusia dengan mudahnya melepaskan
yang dia cintai, dengan arti juga dia dengan mudahnya membuang cinta itu, maka
patut dipertanyakan apakah cinta yang ada pada dirinya itu tulus? Atau sebenarnya
cinta itu tidaklah penuh mengisi relung hati.
Yang
jelas, dari hal ini saya meyakini, bahwa kalau memang rasa cinta itu ada justru
seorang pecinta dan yang dicintai akan saling menjaga rasa cinta itu dan
berkorban agar tidak kehilangan yang dicintainya. Yang mana menjaganya pun
dengan cinta itu sendiri.
Meski
terkadang rasa kecewa itu hadir, tetapi cinta justeru bisa membuat itu damai. Cinta,
dapat diwujudkan dengan toleransi. Seorang pecinta bisa kompromi dan memaafkan
yang dicintainya. Tentu dengan syarat: kedua belah pihak setuju untuk perbaiki
itu dan bertanggung jawab atas kesalahannya. Itulah kompleksnya cinta.
Hal kedua
adalah ekspresi cinta yang sederhana. Sangat banyak pak Sapardi menunjukkan
ekspresi cinta antara Sarwono dan Pingkan. Kedewasaan mereka menampilkan bahwa
cinta mereka sangat sederhana namun mendalam. Ekspresi Sarwono pun seringkali
tegas dan jelas, tanpa perlu kode atau sinyal apa pun. Ia mengungkapkan rindu
kepada Pingkan dengan lugas dan langsung.
Kesederhanaan
lainnya juga dapat dilihat di setiap perbincangan antara Sarwono dan Pingkan. Semuanya
menunjukkan hal yang biasa seperti dua teman sekaligus dua sejoli. Saya tahu
bahwa itulah cinta sejati. Terkadang ia tidak perlu selalu membahas hal perasaan.
Tapi cinta sejati, ia menjadikan dua sejoli sebagai dua teman yang saling menjaga
dan peduli satu sama lainnya. Itulah kesederhanaan dari cinta. Tak perlu ia diekspresikan
selalu dengan cara berlebihan.
Terakhir,
cinta memberikan kepastian. Setelah kepastian datang, cinta memberikan
ketenangan. Itulah, yang penulis yakini, tujuan akhir dari cinta. Ia menghadirkan
rasa tenang dan aman antara dua makhluk.
Singkatnya,
ketenangan hadir di hati Sarwono, khususnya, ketika mendengar perkataan Pingkan
soal rencana pernikahan mereka. Setidaknya, Sarwono tidak merasa digantung
lagi. Pingkan memang secara tersirat mengungkapkan kemauan dirinya untuk
bersama mengarungi bahtera dengan Sarwono.
Kepastian
itulah yang membuat Sarwono damai meski untuk sementara Ia harus ditinggal
pergi Pingkan ke Jepang. Karena itu pula setidaknya Sarwono tetap tahu apa yang
harus dia lakukan dengan perasaan yang ada pada dirinya. Inilah harga mahal
dari cinta. Apa cerita kalau cinta tidak memberikan kepastian? Intinya, hanya
harus bersiap bagi salah satu pihak untuk ditinggal selamanya.
Ketiga
hal itu yang memang merombak pandangan penulis. Sebelumnya, penulis berpikir sangat
rumit tentang cinta hingga mungkin penulis menghindari itu dalam kehidupan
sehari-hari. Tapi karena membaca inilah, yang juga jelas didukung dengan bacaan
referensi lainnya yang saat itu memang diperlukan sangat untuk tesis, pandangan
penulis akan cinta berubah dan bonusnya adalah tesis juga rampung.
Akhir
kata, saya sangat berterima kasih kepada pak Sapardi Djoko Damono. Almarhum,
melalui tulisan-tulisannya, memberikan masukan yang sangat banyak terhadap pola
pikir diri saya ini. Hanya doa yang dapat disampaikan penulis kepada Bapak yang
kini telah abadi.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkomentar. Akan saya pelajari untuk menjadikan konten ini semakin baik ya.