3. Perangai


Perangai


Hari demi hari Ia habiskan untuk wawasan masyarakat. Maksudku adalah keilmuan. Nampaknya Ia terlahir sebagai agen dari pencerah daripada hal-hal yang gelap di masyarakat. Pendekatannya dalam mencerdaskan dan mengarifkan orang-orang kampungku benar-benar hebat. Akan kulukiskan padamu kawan apa maksud dari kata hebat itu.

Kyai Aziz warga asli Kampung Tanjung Daha. Ia dilahirkan pada masa orang-orang Suku Tanjung Daha masih hidup di masa akhir Kerajaan Tanjung Daha. Kata nenekku, sewaktu Ia masih hidup, kerajaan itu kini sudah tenggelam. Lokasinya tepat di pelabuhan Tanjung Daha. Meski belum ada satupun yang melihat bekas-bekas bangunan kerajaan, tetapi kami yakin kerajaan berpusat di sana.

Kini kyai, begitu kami memanggilnya, berusia sekitar 65 tahun. Beliau orang pertama dari kami yang berhasil menuntut ilmu sampai ke Timur Dekat. Di Kota Suci Mekkah, lebih dari lima belas tahun Ia belajar agama Islam. Jangan tanya perihal Bahasa Arabnya, aku yakin dia sudah seperti penyair kawakan Arab.

Kata ayahku, Ia merupakan keturunan penasihat raja. Mungkin warisan genetika turun temurun hingga dirinya yang pula memiliki karomah lebih dari orang-orang lain. Ketika beliau berjalan, orang-orang membungkukkan badannya dan berusaha secepat mungkin mengucap salam lebih dahulu. Apalagi santri-santrinya, banyak dari mereka yang berjalan sambil jongkok kemudian salim dengan mencium kedua tangannya. Aku pun demikian, hingga hari ini. Tidak tahu aku pada kyai di luar kampung kami, apakah masyarakat di sekitarnya berlaku demikian atau bahkan lebih.

Lebih dari lima belas tahun di sana, Ia kembali sebagai jendela dunia bagi kampung kami. Ia jadikan masjid yang merupakan wakaf dari keluarganya sebagai tempat pendidikan agama Islam. Tahun-tahun awal, sebagaimana cerita turun temurun warga, kyai hanya memiliki santri dalam hitungan jari.

Pendidikan di kampung kami mungkin masih asing pada saat itu. Tak heran, sebagian dari orang tua kami hanyalah awak kapal. Bukan pemilik kapal. Kurang dari sepuluh orang yang memiliki kapal termasuk ayahku, selain itu buruh kapal atau buruh tani, merantau sebagai asisten rumah tangga, kuli bangunan, mungkin yang sedikit bermodal mereka akan membuka warung soto, membuka warung kopi, membuka klontong, atau yang sedikit lebih terpandang yaitu sebagai guru, pegawai kantor desa, atau merantau sebagai pegawai negeri sipil yang tak diketahui lagi bagaimana kabarnya sekarang.

Kembalinya kyai ke kampung seolah menjadi angin segar pembuka cakrawala dunia. Ia membangkitkan semangat generasi selanjutnya, kira-kira generasi ayahku. Meski ayah cerita bahwa teman belajarnya hanya tiga orang, tapi semangat kyai dalam mengenalkan kekayaan ilmu membuat tiga orang tersebut berubah nasib. Termasuk ayah yang kini punya kapal.


Ia pernah bilang, bahwa ada sebuah kata-kata mutiara dari bangsa Arab yang mengatakan bahwa jika hidup tanpa ilmu maka manusia bagaikan seekor binatang. Kata-kata yang sebenarnya biasa saja, mungkin bagiku yang tidak nyeni. Namun menjadi motivasi besar ayah untuk terus belajar pada masanya. Kalimat itu muncul setiap tahun ajaran baru di pesantren Kyai Aziz ini.


Ayah termasuk orang-orang pertama yang belajar bersama kyai. Sekolah formal memang ada di kampung kami. Tetapi jaraknya sangat jauh, kondisi jalan yang tidak layak disebut sebagai jalan, dan saat itu ayah memang hidup sangat miskin sehingga pekerjaan sehari-hari hanya bantu kakekku menjadi buruh di kapal hingga dating Kyai Aziz dari Mekkah dan mengajaknya belajar di masjid.


Ayah bercerita bahwa saat itu Kyai berusia 40 tahun. Sudah tiga tahun Ia mengajar anak-anak di masjid. Setiap tahunnya hanya ada tiga anak yang setia belajar. Ia menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab yang mungkin masyarakat lebih mengenalnya dengan kitab kuning. Maka santri-santri pertama yang berhasil lulus, meski lulus berdasarkan keputusan kyai sendiri bukan dari Pemerintah, kini menjadi pengajar di pesantren atau ke sekolah formal di kampung ini. Kami memanggilnya ustadz, karena mengajar pelajaran agama Islam dan Bahasa Arab.

Sifat kesabaran dan santunnya dalam berbahasa adalah dua contoh yang amat terlihat bagi masyarakat. Setelah Ia tiba di kampung, tidak gegabah Ia dalam mendirikan pesantren. Ia hanya bertamu ke rumah warga, satu per satu, kemudian menyampaikan gagasannya yaitu ingin mengajak anak-anak untuk mengaji bersama. Dengan bahasa yang sangat santun, siapa pun tak mungkin menolaknya.

Ia pun tidak meminta biaya sepeser pun untuk mengajar anak-anak. Namun orang tua anak-anak saja yang sering membalasnya dengan memberikan hasil panen, hasil tangkapan ikan, atau sembako seadanya. Hebatnya, Ia amalkan sebagiannya kepada orang yang sangat membutuhkan.

Suatu hari di masa ayah Kyai sedang kritis, ayahnya memberi tahu bahwa Ia yang merupakan anak semata wayang memiliki warisan berupa rumah sederhana dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu kamar keluarga, dan dua hektar lahan pertanian di belakang masjid.

Setelah didiskusikan dengan ayah, ibu, beserta keluarga besar, Ia memutuskan untuk mewakafkan rumah dan lahan tersebut. Rumah tersebut diwakafkan untuk para santrinya agar mulai bermukim, termasuk ayahku juga menikmatinya. Lahan pertanian pun dikelolanya sendiri yang mana hasilnya menjadi sebagian menjadi pasokan makan para santri, sebagiannya yang lain untuk keluarga sekitar pesantren yang kurang mampu, dan sebagiannya lagi dijual di depan rumahnya.

Keputusannya itu merupakan awal dari berdirinya pesantren. Ia namakan sesuai dengan nama masjid, yaitu Pesantren Ar Rahman. Tepat 28 tahun yang lalu. Hari itu mulai pula santri mengemas barang-barangnya dan mulai menginap. Beliau juga mulai belajar bersama beberapa petani bagaimana mengolah lahan. Selain itu santri juga ikut belajar. Ayahku pun ikut belajar.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah berkomentar. Akan saya pelajari untuk menjadikan konten ini semakin baik ya.